Sabtu, 26 Desember 2009

TIGA HAL YANG DICINTAI ALLAH

Menurut orang, salah satu kodrat manusia adalah “mencintai” dan ingin “dicintai”. Saya kira, kita semua setuju dengan kodrat ini. Alangkah indahnya, jika kodrat ini kita sandingkan kepada yang menciptakannya, Allah SWT. Kita harus mencintai-Nya dan kita harus berusaha semaksimal mungkin agar layak dicintai oleh-Nya. Masalah mencintai, mari kita berusaha untuk itu. Masalah kedua, mari kita curhat melalui refleksi sederhana ini.

Menurut khalifah ‘Umar ibn ‘Abd Al-‘Aziz, Allah mencintai tiga hal. Apa itu? Dia berkata, “Ada tiga hal yang paling dicintai Allah, yaitu: [1] memaafkan kesalahan orang; [2] bersungguh-sungguh dalam beramal; dan [3] beribadah sesuai dengan ilmunya. Tidaklah seseorang berbuat baik terhadap orang lain di dunia, melainkan Allah akan menyayanginya pada hari kiamat.” Tuh, subhanallah. Itu tiga hal yang paling dicintai Allah menurut cucu ‘Umar ibn al-Khatthab ini.

[1] Memaafkan kesalahan orang lain. Ini adalah akhlak yang sangat mulia. Orang yang mampu ‘membuka hatinya’ untuk memberikan maaf kepada orang lain adalah orang muhsin menurut Allah. Yaitu orang-orang yang berbuat baik tanpa pamrih dan tanpa tendensi apapun. Ia benar-benar ikhlas: murni berbuat baik, tanpa mengharap apapun dari orang yang --mungkin-- ditolong dan dibantunya. Dalam Qs. Ali ‘Imran [3]: 133-134 Allah menjelaskan, “Bersegeralah kalian meraih “maghfirah” (ampunan) Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu: [1] yang berinfak di kala lapang maupun sempit (susah); [2] menahan amarahnya; dan [3] suka memaafkan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang “muhsin”.” Selain itu, orang muhsin dikategorikan oleh Allah sebagai orang-orang yang bertakwa (muttaqun). Luar biasa.

Anehnya, masih tetap saja ada orang Muslim yang tidak mau minta maaf ketika bersalah. Lebih aneh lagi adalah yang tidak mau memaafkan saudaranya sesama Muslim. Na‘udzu billah mindzalik. Padahal Allah saja menerima taubat dan memaafkan segala kesalahan dan dosa hamba-Nya, selama mereka mau bertaubat dengan baik (taubatan nashuha). Oleh karena itu, Allah banyak disebut di dalam Al-Qur’an sebagai tawwab, rahim, ghafur, qabil al-taub (penerima tobat), ghaffar, dlsb. Alangkah indahnya jika sifat-sifat Allah itu kita teladani.

[2] Bersungguh-sungguh dalam beramal. Beramal itu jangan setengah-setengah. Tidak boleh tanggung. Ia harus dilaksanakan dengan full. Semangat dalam beramal, konsisten (istiqamah) dan kontiniu adalah bukti amal seseorang itu “benar” dan “sungguh-sungguh”. Fenomena yang banyak terjadi adalah amal itu dilakukan sebatas menggugurkan kewajiban. Puasa, misalnya. Banyak orang berpuasa sekedar menahan “haus” dan “lapar” saja. Tidak lebih. Shalat juga demikian. Secara mayoritas, umat Islam faham bahwa shaf terdepan adalah yang terbaik. Namun masih banyak yang berebutan bahkan “antri” untuk shalat paling belakang. Sedekah pun tanggung-tanggung. Kita masih merasa bahwa Rp. 10.000 itu “sangat besar” untuk diinfakkan. Tapi kita merasa bahwa Rp. 100.000 itu “sangat kecil” jika dibawa ke mall-mall, swalayan, Ramayana, dlsb. Mengapa demikian? Karena kita masih merasa bahwa ibadah itu bisa dilaksanakan apa adanya. Ironis memang.

[3] Beribadah sesuai dengan ilmunya. Ibadah itu harus ada dasarnya. Tidak asal ibadah. Shalat harus ada ilmunya. Puasa harus memiliki dasar dari Al-Qur’an dan Sunnah. Zakat harus memiliki dasar yang benar. Begitu juga dengan ibadah-ibadah yang lain. Inti ibadah adalah “mengikut” (ittiba‘), bukan “membuat-buat” (ibtida‘). Shalat yang benar adalah shalat yang didasari dengan “ilmu shalat”. Itu lah shalat yang akan membuat pelakunya seperti ‘memakan sirih’. Awalnya shalat itu berat, tapi kemudian sangat ia cintai. Awalnya memakan sirih itu pahit, getir, tapi ia akan nikmat jika sudah dilaksanakan dengan rutin. Puasa yang hanya sekedar menahan haus dan lapar adalah ‘puasa main-main’. Ini lah yang pernah disindir oleh Rasulullah SAW, “Berapa banyak orang berpuasa, tetapi hanya memperoleh haus dan lapar saja.” Tentang shalat beliau juga menyindir, “Berapa banyak orang yang berdiri (melaksanakan shalat), namun yang dia dapat hanya letih dan capek saja.” Ibadah tanpa ilmu, adalah ibadah yang tidak benar. Lebih dari itu, kemungkinan besar akan ditolak oleh Allah SWT. Mau ibadah kita ditolak?

“Ya Allah, jadikanlah kami orang yang pemaaf. Jadikan hati kami cinta kepada amal, sungguh-sungguh dalam beramal dan cinta ilmu. Jadikanlah ilmu kami ilmu yang semakin mengenalkan kepada dzat-Mu. Sehingga kami bisa beribadah berdasarkan perintah yang Engkau inginkan.” [] (Medan, Sabtu: 27 Oktober 2007)

0 komentar:

Poskan Komentar