Sabtu, 26 Desember 2009

ALLAH ADA DI MANA-MANA

Allah ada di mana-mana. Ya, bahkan di aliran darah kita. Allah itu “Mahadekat”. Allah ada di lautan, di daratan, di langit, di sungai, di sawah, di bukti, di gunung, di rumah, di kantor, di mobil, di pesawat, di kapal dan dimana saja. Allah ada di tengah-tengah kita.

Pernah mendengar kisah ‘Abdullah ibn ‘Umar ibn Khatthab dan seorang penggembala? Kisah ini sangat masyhur. Mari kita lihat dialog mereka!

Suatu hari, Ibnu ‘Umar berjalan dengan beberapa orang sahabatnya dan bertemu dengan seorang penggembala kambing. Kemudian dia berkata kepada sang penggembala itu, “Coba kamu jual kepada kami satu ekor dombamu! Penggembala itu menjawab, “Domba-domba ini bukan milik saya tuan, dia milik tuan saya.” Ibnu ‘Umar berkata lagi, “Katakan kepada tuanmu bahwa dombanya dimakan serigala.” Penggembala itu berkata, “Lalu dimana Allah?” Mendengar jawaban si penggembala itu Ibnu ‘Umar kemudian menangis dan selalu mengulang-ulangi pertanyaannya, “Lalu di mana Allah?” Ibnu ‘Umar akhirnya mendatangi tuan pemilik domba-domba itu dan membelinya. Bukan hanya itu, Ibnu ‘Umar membebaskan sang penggembala --kebetulan dia adalah seorang hamba sahaya. Dia kemudian membeli seekor domba dan menghadiahkannya kepada si penggembala itu.

Subhanallah. Di mana Allah? Pertanyaan yang sangat luar biasa. Pertanyaan ini sebenarnya yang menjadi ‘Rem Cakram’ kehidupan kita. Tidak ada rem yang lebih kuat selain qalbu yang hidup: yang mampu merasakan kehadiran Allah, kapan dan di mana saja. Ketika ingin berbuat maksiat, munculkan pertanyaan: “Lalu, di manakah Allah?” Mungkin kita sudah merasa jauh dari Allah. Atau, Allah tidak beserta kita, seolah-olah maksiat kita tidak diawasi oleh-Nya.

Ketika ingin korupsi, lahirkan pertanyaan: “Di manakah Allah?” Dengan begitu niat korupsi dapat dibendung dan dibentengi. Ketika ingin berzina, timbulkan pertanyaan: “Di manakah Allah?” Sehingga niat untuk berzina bisa diurungkan. Pokoknya, setiap perbuatan jahat insya Allah dapat dihindarkan, jika kita benar-benar yakin bahwa Allah itu dekat, Mahamelihat, Mahahadir, Mahadekat, dan “Serba Maha”.

Sebagai penutup refleksi ini, mari kita renungkan kisah menarik di bawah ini.

Al-Mubarak, ayah ‘Abdullah ibn al-Mubarak adalah seorang hamba sahaya kemudian dimerdekakan oleh tuannya. Ia bekerja pada seorang pemilik kebun. Suatu hari, sang pemilik kebun berjalan-jalan ke kebunnya bersama kawan-kawannya. Ia kemudian menyuruh al-Mubarak untuk memetik buah delima yang manis. Setelah dipetik, sang pemilik kebun itu berkata kepada al-Mubarak, “Apakah engkau bisa membedakan mana delima yang manis dan mana yang asam?” Al-Mubarak menjawab, “Bagaimana saya dapat mengetahuinya, sementara Anda belum mengizinkan saya untuk memakannya.”

Sang pemilik kebun mengira bahwa al-Mubarak sedang menipunya. Dia lalu bertanya, “Engkau telah menunggu kebun ini sejak sekian tahun dan berkata seperti ini?”

Sang pemilik kebun tadi bertanya kepada para tetangganya perihal al-Mubarak ini. Mereka memberikan kesaksian bahwa al-Mubarak adalah orang baik-baik dan saleh. Dan mereka tidak pernah tahu (melihat) al-Mubarak memakan satu buah delima pun. Akhirnya sang pemilik kebun mendatanginya dan berkata, “Jika aku mengawinkanmu dengan anakku, siapa yang engkau mau?” Al-Mubarak berkata, “Orang Yahudi mengawinkan anaknya berdasarkan harta. Orang Nasrani mengawinkan anaknya berdasarkan kecantikan. Sementara orang Mukmin berdasarkan “ketakwaan” dan “agama”. Maka lihatlah, Anda ini dari golongan yang mana?” Sang pemilik kebun tadi bertanya kepada al-Mubarak, “Apakah aku dapat menemukan seorang laki-laki untuk anakku yang baik darimu?” Dia kemudian memperkenalkan anak perempuannya kepada al-Mubarak. Al-Mubarak akhirnya --karena salehah dan bertakwa--menerimanya dan membangun rumah tangga bersamanya. Dia akhirnya dikarunia banyak anak, diantaranya adalah ‘Abdullah ibn al-Mubarak rahimahullah.

Subhanallah! Lihatlah al-Mubarak. Dia menjaga kesucian dirinya dengan “satu buah delima”. Dia tidak pernah memakannya, padahal sudah bertahun-tahun menjaga kebun delima itu. Kenapa? Dia takut bahwa delima yang dia makan ini “tidak halal”. Karena tuannya tidak pernah mengizinkannya untuk itu. Akhirnya, bukan hanya delima yang dia dapat, melainkan hati sang pemilik kebun delima juga anaknya yang salehah. Allah benar-benar hadir di ‘kebun delima’ itu. Hadir di hati al-Mubarak.

“Ya Allah, ya Rabb, jadikan hati kami selalu ‘sensitif’ dalam merasakan ‘sinyal’ kehadiran-Mu. Hadirlah selalu dalam hati kami. Bimbinglah kami selalu, agar kami senantiasa berada dalam ‘rel’ kebenaran”.[] (Medan, Senin: 29 Oktober 2007)

0 komentar:

Poskan Komentar