Sabtu, 26 Desember 2009

DUA HARI, DUA MALAM

Dunia adalah ‘panggung sandiwara’. Semua bentuk akting diatur oleh sang sutradari agung, Allah SWT. Skenario-Nya lah yang berjalan. Orang yang paling mengerti perannya di panggung ini, dialah yang akan mendapat ‘piala citra’ dari Allah. Sebaliknya, orang yang tidak dapat berlakon dengan baik, hanya akan mendapat celaan dan hardikan dari sang sutradara. Ia akan dianggap sebagai “aktor” atau “aktris” paling buruk dan dianggap tidak bertanggungjawab. Penilaian dan pemberian trofi itu akan diberikan di akhir, Hari Kiamat.

Hasan al-Bashri berkata, “Ada dua hari dan dua malam yang belum pernah didengar oleh seluruh makhluk. Satu malam dimana engkau tidur di dalamnya bersama orang-orang yang ada dalam kubur. Sementara engkau sebelumnya belum pernah tidur di situ. Dan satu malam, dimana siang harinya adalah “hari kiamat”. Dan satu hari dimana engkau didatangi oleh seorang pemberi kabar dari Allah, apakah ia membawa kabar surga atau neraka. Dan satu hari dimana ‘Buku Catatanmu’ diberikan melalui tangan kananmu atau tangan kirimu.”

Itulah “dua hari dua malam” yang belum pernah didengar sama sekali oleh siapapun. Ia datang perlahan namun pasti, slow but sure. Sungguh, dua hari dua malam itu akan kita temui dan kita rasakan. Dan tidak ada seorangpun yang dapat melewati dan menghindar darinya.

Lihatlah ke belakang! Ada dua orangtua yang pernah kita temui dan kita hidup bersama mereka, namun sekarang sudah tidak bersama kita lagi. Kita tidak tahu pasti, sudah berapa malam ia tidur bersama ‘para pendahulunya’ di alam barzakh. Lihatlah ke samping! Berapa teman dan handai taulan kita yang pergi mendahului kita. Kita tidak mengerti, kenapa mereka tidak mau kembali.

Untuk menghadapi dua hari dua malam itu, Allah mengajarkan kita untuk bersikap “kritis”. Setiap jiwa harus bisa melihat sejarah hidupnya di masa silam. Sejarah itu harus dijadikan starting point dalam memulai dan memetakan perjalanan selanjutnya. “Hari orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap individu memperhatikan apa yang telah diperbuatnya (di masa silam) untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Qs. al-Hasyr [50]: 18).

Berlomba-lomba mengejar kekayaan adalah bukti seorang aktor yang tidak mengetahui perannya. Karena usahanya akan melupakan bagiannya di akhirat. Ini mengindikasikan bahwa dia tidak mengerti hakikat ‘dua hari dua malam’ itu. Seyogyanya, kecintaannya kepada perhiasaan dunia, tidak mengalahkan harapannya terhadap kemewahan dan kenikmatan akhirat. Itulah aktor dan aktris yang ‘adil’. “Jika engkau melihat seseorang yang berlomba menggapai duniawi, maka lombalah ia dengan amalan akhirat,” demikian kata Hasan al-Bashri.

Sungguh, kita belum tahu situasi alam kubur. Karena orang yang telah ‘ziarah’ ke sana ‘enggan’ untuk kembali. Dalam sebuah nasehatnya, ‘Umar ibn Dzarr berkata, “Seandainya orang yang sehat tahu apa saja isi kuburan: jasad-jasad yang hancur lebur, niscaya mereka akan bersungguh-sungguh di hari-hari kosongnya (untuk beramal). Karena mereka merasa takut dari satu hari; dimana seluruh hati dan pandangannya menjadi goncang.” Masihkan kita lupa akan “dua hari dua malam itu”?

(Medan, Selasa: 27 Nopember 2007)

0 komentar:

Poskan Komentar