Sabtu, 26 Desember 2009

PINTU-PINTU KEBAIKAN

Dari Mu‘adz ibn Jabal ra. bahwa dia berkata, “Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku tentang satu amal yang dapat memasukkanku ke dalam surga, dan menjauhkanku dari api neraka!” Baginda Rasulullah menjawab, “Engkau telah bertanya tentang perkara yang besar. Sesungguhnya ini sangat mudah, bagi siapa yang dimudahkan oleh Allah. Engkau menyembah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatupun; mendirikan shalat; mengeluarkan zakat; puasa Ramadhan dan melaksanakan haji.” Kemudian beliau melanjutkan, “Maukah engkau aku tunjukkan? Puasa itu adalah ‘perisai’ (benteng), sedekah itu menghapus kesalahan sebagaimana air memadamkan air dan shalat seseorang di tengah malam yang sepi.” Kemudian beliau membaca: [lambung-lambung mereka jauh dari ranjang-ranjang mereka] sampai kepada ayat: [mereka kerjakan] (Qs. al-Sajadah: 16-17). Kemudian beliau berkata lagi, “Maukah aku tunjukkan penghulu satu urusan, tiangnya dan titik akhirnya? Aku menjawab, “Ya wahai Rasulullah.” “Pangkal (kepala) urusan itu adalah “Islam”, tiangnya “shalat” dan puncaknya adalah “jihad”.” Maukah aku tunjukkan ‘rem cakram’ untuk semua itu? “Ya, jawabku”, kata Mu‘adz. Rasulullah kemudian memegang lidahnya dan berkata, “Cukuplah engkau memelihara ini.” Wahai Rasulullah, apakah kita akan disiksa akibat dari lisan kita? “Wahai, Mu‘adz, tidak seorangpun yang disungkurkan wajahnya ke dalam api neraka, melainkan karena buah tidak mampu menjaga lisannya.” (HR. al-Tirmidzi).

Lihatlah, bagaimana Mu‘adz menyampaikan pesan Kanjeng Nabi kepada kita. Sangat detail dan lugas. Tidak ada penghalang di sana. Siapa yang mau menjemputnya, niscaya dia akan sukses dalam menapaki hidup dan kehidupan di atas dunia yang fana ini. Itu lah pintu-pintu kebaikan yang sudah dibuka oleh Rasulullah kepada kita lewat da‘i yang dikirim ke Yaman, Mu‘adz ibn Jabal.

Shalat

Shalat adalah tiang agama. Orang yang meninggalkan shalat sama artinya menghancurkan agama, demikian jelas Baginda Rasulullah SAW. Bahkan, amalan yang pertama kali akan dihisab di Hari Kiamat adalah shalat kita. Kalau shalat kita baik, seluruh amalan kita akan dianggap baik oleh Allah. Jika sebaliknya, amalan kita –yang lainnya–tidak ada artinya. Anehnya, masih ada orang yang tidak mau melakukan shalat. Sungguh sombong orang ini. Sepertinya dia tidak butuh ‘sujud’ kepada Allah. Padahal, sujud itu akan dikembalikan kepada kita.

Zakat…

Zakat itu artinya tumbuh dan berkembang. Juga, artinya zakiyah dan tazkiyahi: bersih dan pembersihan. Jika harta kita ingin tumbuh dan berkembang, dan bersih lagi membersihkan maka kita harus mengeluarkan sebagian harta kita. Itu lah ciri orang yang bertakwa (takut kepada Allah) [Qs. Al-Baqarah [2]: 3). Dewasa ini banyak bermunculan ‘Qarun-Qarun Modern’. Semuanya menolak untuk mengeluarkan zakat. Seandainya Abu Bakar al-Shiddiq berada di tengah-tengah kita, niscaya mereka akan diperangi. Kenapa? Karena mereka berani memisahkan ‘zakat’ dari shalat. Menolak mengeluarkan zakat, sama artinya menutup pintu pengembangan dan berkah untuk harta kita.

Puasa Ramadhan…

Puasa ini datangnya sekali dalam setahun. Meskipun begitu, masih ada yang tidak mau melakukannya. Sungguh merugi orang yang tidak mau melaksanakannya. Karena puasa ini adalah ‘jembatan ketakwaan’ (Qs. Al-Baqarah [2]: 183). Jadi, orang yang tidak mau melaksanakannya sama artinya tidak mau didik oleh Allah untuk menjadi orang yang bertakwa. Sungguh sombong dan congkak orang ini. Padahal, training-nya hanya satu bulan, tidak lebih. Kita sudah memakan dan mengkonsumsi rezki Allah selama 11 bulan. Ketika diminta untuk berhenti –itu pun hanya di siang hari–untuk tidak makan-minum, banyak dari kita yang menolaknya. Puasa itu ‘junnah’: perisai atau benteng, kata Nabi. Siapa yang menolak perintah ini, berarti menolak imunisasi iman dan takwanya.

Sedekah…

Ya, perbanyaklah bersedekah. Sedekah itu menghapuskan kesalahan. Luar biasa. Bahkan, sedekah itu mampu ‘mengobati’ penyakit. Kata orang Nabi SAW, Daawu mardhaakum bi al-shadaqah, ‘Obatilah orang yang sakit dari kalian dengan sedekah’.

Haji…

Bagi yang sudah cukup hartanya, sambutlah seruan Allah ke rumah suci-Nya, Ka‘bah. Baitullah al-Haram di Makkah al-Mukarramah adalah tempat puncak rukun Islam. Bagi yang sudah sampai nominal kekayaannya, jangan tunggu-tunggu lagi. Katakanlah, “Labbaika Allahumma labbaik”. Ya Allah, aku datang menyambung panggilanmu ya Allah. Rasakan, bagaimana dekatnya dengan Allah di sana, di rumah-Nya. Kita bebas meminta dan menyampaikan hasra qalbu kita.

Tahajjud…

Ini kebiasaan orang-orang saleh terdahulu. Sungguh luar biasa shalat ini. Qiyamullah, demikian biasa disebut oleh orang. Saya menganalogikannya dengan SLJJ (Saluran Langsung Jarak Jauh). Saluran ini jarang dipakai oleh orang. Orang lebih memilih saluran yang biasa digunakan: Shubuh, Zhuhur, Maghrib, Isya. Mungkin ditambah dengan shalat rawatib lainnya. Tapi SLJJ ini sangat langka yang menggunakannya. Padahal, fasilitas ini sangat ampun dalam ‘menembus’ kabut dan hijab ilahi. Bukan main-main, shalat ini mampu memberikan pintu masuk dalam menyelesaikan problem (Qs. Al-Isra’ [17]: 79). Kata Allah, shalat ini mampu memberikan: [1] tambahan ibadah; dan [2] mengangkat pelakunya ke derajat yang sangat terpuji.

Jihad…

Jangan saklek dan monoton dalam memaknai Jihad. Jihad di medan perang sangat penting. Negara saudara kita seperti Palestina, Irak dan Chechnya, misalnya membutuhkan banyak mujahid. Umat Islam harus jihad ke sana. Seluruh umat Islam? Tidak mesti. Tidak wajib. Kita juga punya kewajiban jihad yang lain di negara dan lingkungan kita. Seorang pelajar, jihadnya adalah belajar dan baik dan sungguh-sungguh. Seorang suami, jihadnya adalah mencari nafkah yang halal untuk anak dan istrinya. Seorang da‘i jihadnya adalah menyampaikan risalah Allah kepada umat manusia.

Menjaga Lisan…

Ini lah intinya. Siapa saja yang mampu menjaga dan memelihara lisannya, maka dia akan selamat dunia-akhirat. Shalat, zakat, puasa, haji, sedekah dan seluruh amal kita jika tidak didampingi oleh lisan yang baik, maka itu akan sia-sia. Betapa tidak, kita kadang ‘tidak sabar’ untuk menceritakan seluruh kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain. Padahal belum tentu baik. Shalat kita belum tentu khusyuk. Zakat kita belum tentu bersih. Sedekah kita belum tentu sempurna. Haji kita belum tentu halal hartanya. Terkadang kita umbar ke mana-mana amal kita itu. Kita ingin dianggap paling saleh, paling dermawan, paling banyak zakatnya dan paling kuat tahajjudnya. Kita naik haji pun kadang ingin agar penghuni dusun kita datang berbondong-bondon ke rumah kita untuk ‘mencium tangan kita’. Kenapa? Karena kita bangga menjadi ‘Wak Haji’. Haji jadi bahan pameran amal. Hati-hati, ‘mulutmu adalah harimaumu’, kata orang tua kita dahulu.

Jangan tutup pintu-pintu kebaikan itu. Mari kita sambut. Mari kita ucapkan terima kasih kepada Mu‘adz, da‘i Rasulillah, yang telah membukan pintu-pintunya untuk kita. Semoga pintu itu tidak tertutup, sampai kita mamu memasuki seluruhnya. Amin ya Rabb.

(Medan, Senin: 19 Nopember 2007)

0 komentar:

Poskan Komentar