Sabtu, 26 Desember 2009

MALAM PERTAMA YANG MENEGANGKAN

Dalam benak kita, ‘malam pertama’ adalah malam yang sangat mendebarkan, menegangkan, bersejarah, dan bisa jadi mengasyikkan.

Dalam refleksi ini, saya akan berbicara tentang ‘Malam Pertama yang Lain’. Malam pertama yang benar-benar “menegangkan” dan “menakutkan”. Malam pertama di Alam Kubur. Ya, itu lah “malam pertama” yang saya maksud.

Tiga hari yang lalu, saya membeli buku Malam Pertama di Alam Kubur karya Dr. A‘idh al-Qarni, penulis buku Best Seller “La Tahzan”. Ketika masih belajar di Mesir, edis Arabnya (‘Awwalu Laylatin fi al-Qabr’) sempat saya beli dan saya baca, meskipun belum tuntas. Buku yang diterbitkan oleh AQWAM (Cetakan XXI, Agustus 2007/Rajab 1428 H) ini sudah digabung dengan dua buku karya ulama terkenal lainnya: [1] Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-‘Uraifi (Hada’iq al-Maut, yang juga sudah saya baca edisi Arabnya di Mesir) dan [2] Syaikh Muhammad Husain Ya‘qub (Ahwal al-Qabr).

Saya tidak bisa membayangkan situasi malam pertama di dalam kuburan. Menurut beberapa hadits Nabi SAW, alam kubur adalah alam barzakh. Satu alam yang “memisahkan” seorang mayit: dari alam dunia (nyata) dan Alam Akhirat. Artinya, alam barzakh adalah stasion sementara. Hanya sekedar transit. Kemungkinannya hanya dua: alam barzakh menjadi “Taman-taman Surga” atau “Parit-parit Neraka”. Sejak malam pertama di sana, kita sudah disodorkan dua kemungkinan itu. Bukankah ini sangat menegangkan. Sebelum itu, menurut Nabi SAW, kita akan ditanya dahulu tentang banyak hal oleh dua malaikat Allah: Munkar dan Nakir. Dapatkah kita “lolos” dan “lulus” dari ujian kedua malaikat itu?! Teput dada, tanya hati, tanya iman. Biar dia menjawabnya.

Saya akan mengutip apa yang dicatat oleh Dr. al-‘Uraifi dalam bukunya di atas. Beliau menulis dalam “Masalah Ketiga”:

“Adzab dan nikmat kubur adalah perakara ghaib. Tidak bisa dilacak dengan akal. Sementara iman kepada hal ghaib adalah sifat terpenting seorang Mukmin, sebagaiman firman Allah ‘Azza wa Jalla,
“Alif Lâm Mîm. Itulah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa. Yakni mereka yang beriman kepada yang ghaib...” (Qs. al-Baqarah [2]: 1-2).

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Diantara yang harus diketahui adalah adzab kubur, disebut juga “adzab barzakh”. Setiap orang yang mati akan mendapatkan adzab, dalam keadaan apapun kematiannya. Baik dikubur atau tidak. Bahkan sekalipun ia dimakan binatang buas, terbakar hingga menjadi abu yang beterbangan ditiup angin, disalib atau tenggelam di laut. Adzab itu akan mengenari ruh dan badannya, sebagaimana orang yang dikubur.”

Bayangkan!!! Selamat belum tentu dapat, tapi azab barzakh sudah menanti kita. Dan itu sejak malam pertama dalam kuburan. Oleh karena itu, di lembaran awal tulisan al-Qarni, tercatat di sana: “Kuburan itu bisa menjadi taman surga. Sebaliknya, ia juga bisa menjadi satu lubang diantara lubang neraka.” Agar kita bersiap-siap untuk menghadapi malam pertama itu.

Lain lagi dengan Syaikh Ya‘qub. Di awal tulisannya beliau menegur dan mengingatkan kita:
“Renungkanlah nasib saudaramu yang kini telah dikubur: Dulu ia begitu menikmati pemandangan yang dilihat. Kini matanya telah copot; Dulu perkataannya begitu fasih. Kini cacing tanah telah memakan mulutnya; Dulu ia selalu tertawa. Kini giginya hancur terbenam tanah. Cermati dan perhatikan. Yakinlah, bahwa apa yang telah “ia” alami akan “engkau” alami.”

Benar-benar menyeramkan malam pertama ini. Tak satu pun dari kita mampu lari dalam malam pertama itu. Malam pertama yang sangat menentukan: bahagai atau sengsara, surga atau neraka. Kita benar-benar akan mengalaminya. Sama halnya dengan kematian. Kita juga tidak mampu lari darinya. “Katakanlah, ‘Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagi kalian, jika kalian melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kalian terhindar dari kematian) kalian tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (Qs. al-Ahzâb: 16).

Pintu barzakh atau kuburan adalah “kematian”. Bukankah semua orang tidak bisa lari darinya?

Ya Allah, hamba benar-benar banyak dosa. Jiwa hamba ‘hitam-legam’ karena dibakar api dosa dan maksiat. Hamba benar-benar takut menghadapi ‘Malam Pertama’ itu. Berikan hamba istiqâmah dalam beramal. Bantu hamba untuk selalu konsisten berdzikir (mengingat) kepada-Mu, mensyukuri nikmat-Mu dan menyembah-Mu dengan sempurna. []

(Medan, 18 Oktober 2007/6 Syawwal 1428 H).

0 komentar:

Poskan Komentar