Sabtu, 26 Desember 2009

KEWAJIBAN LEBIH BANYAK DARIPADA WAKTU

Semoga judul refleksi kali ini tidak membuat ‘nafas’ pembaca tersengal-sengal. Saya juga tidak bermaksud untuk membuat ‘lelah’ jiwa Anda semua. Demikianlah adanya.

Ini adalah satu realitas hidup. Dimana kita hidup dalam ‘lingkaran waktu’ yang sangat terbatas. Orang Arab menyatakan, “Al-Wajibat aktsaru minal Awqat” (‘Kewajiban kita lebih banyak dibandingkan waktu yang tersedia’). Ini perlu direnungkan. Prinsipnya adalah “menghargai” waktu. Bagaimana waktu yang singkat ini dapat di-manage sedemikian rupa, agar benar-benar terinvestasi dengan baik.

Pernah Anda mendengar orang yang mengeluh ketika mendengar seruan azan? “Aduh, kok cepat sekali sih azan Maghribnya!” kata seorang teman saya. Apa yang dia katakan adalah benar. Kenapa? Karena dia melaksanakan shalat Ashar pada pukul 18.00 WIB, sementara shalat Maghrib pukul 18.15 WIB. Bagaimana tidak cepat waktu itu.

Di sisi yang lain, ada teman yang mengeluhkan waktu karena dia merasa kekurangan. “Waduh, mana pekerjaan belum selesai lagi,” keluhnya kesal ketika lonceng berbunyi dan tugas dia belum selesai tapi harus diantar ke meja dosen.

Kewajiban “lebih banyak” dari waktu….

Rasulullah SAW adalah orang yang sangat mengerti ‘kaidah’ itu. Jika berjalan, menurut para sahabatnya, seolah-olah bumi ini digulirkan untuk beliau. Karena sanking cepatnya beliau berjalan, seolah-olah ada urusan penting yang harus segera diselesaikan. Kanjeng Nabi SAW tidak pernah terlihat tenang. Dia terus memikirkan Islam. Memikirkan umat ini. Beliau terus mencari ‘celah’ untuk menyampaikan dakwahnya kepada umat manusia. Bahkan, menjelang wafatnya yang dia ingat bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa selain “ummati, ummati”, umatku, umatku. Ya Rasulullah, semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepadamu selalu.

Kaidah penting itu sering kita ubah dan kita balik. Kita merasa waktu ini begitu panjang dan banyak. Maka kita pun selalu berleha-leha. Pekerjaan yang menumpuk biasanya ‘dapat’ kita selesaikan lewat sistem “SKS” (Sistem Kebut Semalam). Tentu saja hasilnya tidak akan maksimal. Karena kita anggap waktu kita banyak, maka yang terjadi adalah penundaan amal. Shalat diakhirkan, karena –menurut kita–waktunya masih panjang. Bayar hutang ditangguhkan, karena kita ‘yakin’ dapat hidup kita 1000 tahun lagi.

‘Umar ibn ‘Abdul Aziz pernah tidak jadi istirahat, karena ditegur oleh anaknya. Ketika ingin merebahkan tubuhnya di atas dipan, anaknya bertanya, “Ayahanda, kenapa istirahat?” “Ia, tubuh ayah lelah sekali setelah seharian keliling melihat aktivitas dan keadaan umat ini,” jawab ‘Umar dengan mantap. “Ayah, cepat bangun dan keliling lagi. Lihat urusan umat!” kata anaknya. “Ayah mau rehat sebentar saja, setelah itu baru keliling lagi,” jawab ‘Umar. Apa kata anaknya kemudian? “Apakah ayah bisa menjamin katika ayah bangun masih hidup dan bisa melihat urusan umat Islam?” ‘Umar terperanjat mendengar pertanyaan anaknya ini. Dia langsung melompat dan memakai gamisnya kembali untuk keliling melihat keadaan umat Islam. Subhanallah!

Dimana posisi kita dibanding khalifah yang mulia itu? Sungguh, pekerjaan dan tugas kita untuk umat ini lebih banyak dibanding waktu yang disediakan oleh Allah. Semua itu butuh manajemen yang baik dan rapi. Jika kita, kita tidak akan pernah menghargai waktu yang ada. Allah sudah menggariskan bahwa manusia –siapapun orangnya–akan merugi, jika hari-harinya selama di dunia ini tidak diisi dengan: [1] peningkatan iman kepada Allah; [2] beramal saleh. Amal yang baik untuk kemaslahatan agama (Islam), keluarga, bangsa dan negara bahkan untuk dunia; [3] saling menasehati dalam menapaki ‘rel’ kebenaran; dan [4] saling menasehati dalam menetapi kesabaran. (Qs. al-‘Ashar: 1-3).

Dakwah Islam butuh orang-orang yang menghargai waktu. Pekerjaan butuh waktu yang di-manage dengan baik dan rapi. Amal kita pun butuh disediakan waktu yang cukup. Sekarang kita baru sadar, bahwa sudah banyak waktu yang kita hamburkan. Sekarang kita baru tahu, bahwa kewajiban kita seabrek. Sementara waktu hanya 24 jam saja yang disediakan oleh Allah. Itu belum dipotong waktu untuk mandi, makan, minum dan istirahat. Semoga Anda setuju dengan refleksi ini. Wallahu a‘lamu bi al-shawab.[]

“Ya Allah, jadikankah kami orang-orang yang sadar akan waktu. Bimbing kami agar terus dapat istiqamah beramal. Semoga waktu yang singkat di dunia ini menjadi waktu yang bernas, full dengan amal, penuh dengan kesalehan dan sarat ibadah kepada-Mu”

(Medan, Minggu: 04 Nopember 2007)

0 komentar:

Poskan Komentar