Sabtu, 26 Desember 2009

BELAJAR DARI AL-GHAZALI

“Wahai anak-anakku! Sesungguhnya, yang dimaksud tarbiyah (pembinaan, pendidikan) ialah seperti pekerjaan seorang petani yang mencabuti duri dan menyingkirkan tumbuh-tumbuhan lain dari tanamannya. Hal itu supaya tanamannya baik dan tumbuh dengan sempurna” (Imam Abu Hamid al-Ghazali).

Membina atau mendidik diri benar-benar sulit. Apalagi jika diri diajak untuk bertakwa kepada Allah. Sungguh sukar rasanya. Mungkin diri ini masih diliputi oleh nafsu. Mungkin jiwa ini masih diselimuti oleh syahwat. Mungkin qalbu ini masih dikuasai oleh musuh-musuh kita, Iblis, Setan, dan nafsu jiwa.

Nasehat sang “Hujjatul Islam”, Abu Hamid al-Ghazali (w 505 H/1111 M) di atas menarik untuk direnungkan. Kita adalah anak-anak al-Ghazali. Kita adalah generasi dakwahnya. Demi mendidik ‘anak-anaknya’ al-Ghazali mampu menelurkan karya yang begitu kaya. Dia meninggalkan dan mewariskan ilmu Allah lewat ketajaman mata penanya. Hampirilah kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din! Di sana akan ditemukan bagaimana al-Ghazali mendidik kita untuk menghidupkan ilmu-ilmu agama kita, Islam. Bukalah lembaran buku Bidayah al-Hidayah! Di dalamnya ditorehkan cara-cara menggapai hidayah Allah. Dari cara istinjak sampai golongan penuntut ilmu digambarkan dengan sangat apik oleh sang imam. Lihatlah pula al-Munqidz min al-Dhalal! Dia begitu bersemangat untuk kembali kepada Nur Ilahi, cahaya Allah.

Kita harus belajar menjadi petani memang. Tidak bisa tidak. Wajib hukumnya. Jiwa ini penuh dosa. Hati ini penuh kotoran. Diri ini sangat nista. Kenapa kita diam saja? ‘Gulma’ jiwa harus disingkirkan. Tengoklah rasa dengki, iri, hasad, dan dendam masih berkesumat dalam dada kita. Lihatlah lebih dalam lagi! Rasa ingin pamer, ingin dipuji, ingin dianggap paling saleh, ingin dikatakan paling takwa dan ingin disanjung terus menghinggapi hati kita. Ini benar-benar ‘hama’ diri.

Di sekitar kita masih ‘ramai’ rumput-rumput iman. Ia muncul bak cendawan di musim hujan. Seolah berlomba menghancurkan diri dan jiwa kita. Jika dia makin tinggi, akan menutupi mata hati. Akibatnya, dia akan menghambat jalan cahaya Allah. Nur Ilahi sulit masuk, tak mampu menembus qalbu kita yang terlanjur ‘berumput’ itu. Ya Allah! Bagaimana mungkin diri dan jiwa kita akan tumbuh dengan baik dan sempurna. Sementara kita masih rajin dan ‘getol’ “memupuk” gulma dan rumput-rumput itu. Kita senang menggalakkan keimanan di samping kemusyrikan. Kita gemar beramal di sebelah ‘rumput riya’. Kita bangga berinfak sambil pamer. Kita senang berdakwah yang diiringi pujian. Na‘udzu billah mindzalik! Bagaimana mungkin jiwa ini tumbuh dengan baik. Jauh rasanya diri ini dapat tumbuh dengan sempurna.

Terima kasih “Hujjatul Islam” atas bimbingannya. Ya Allah, syukurku aku panjatkan kepada-Mu atas anugerah-Mu kepada kami lewat seorang “al-Ghazali”.

“Ya Allah, bimbing kami menapaki tangga-tangga ketakwaan. Tuntun kami dalam membersihkan dan memberantas ‘rumput’ dan ‘duri’ iman yang tumbuh di sekitar kami. Ya Rabb, jadikanlah keimanan itu hal yang sangat kami cintai. Hiaskanlah ia dalam hati kami. Amin”

(Medan, Kamis: 01 Nopember 2007)

0 komentar:

Poskan Komentar