Sabtu, 26 Desember 2009

MANUSIA BUTUH DOA

Ada manusia yang tidak butuh do’a? Sepertinya tidak ada. Semua kita butuh do’a: permohonan, permintaan kepada Allah SWT. yang memiliki jagat raya ini. Allah sendiri “berjanji” mengabulkan setiap permintaan (do’a) yang diajukan kepada-Nya. Bahkan, Allah menyatakan bahwa orang yang “tidak mau berdo’a” adalah orang yang “sombong”. Dia menjelaskan dengan sangat detail, “ Dan Tuhanmu telah menyatakan, ‘Berdo’alah kalian (seluruhnya) kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Sungguh, orang-orang yang sombong dari meminta kepada-Ku, mereka akan masuk ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan terhina.” (Qs. Ghâfir [40]: 60).

Astaghfirullahal ‘Azhim. Sudah berapa lama kita tidak ‘menyapa’ Allah lewat untaian do’a-do’a kita? Sudah hilangkah Allah dari memori kita? Sudah tidak butuhkah kita kepada-Nya? Bayangkan, Allah berjanji akan mengabulkan segala permintaan dan permohonan kita. Tapi, kebanyakan dari kita malah berlagak ‘sombong’, pongah, takabbur dan tidak butuh Allah. Tidakkah kita takut kepada ancaman neraka Jahannam-Nya?

Kanjeng Nabi Muhammad SAW sendiri menjelaskan bahwa “al-Du‘â’u mukhkhu al-‘ibâdah” (Do’a itu adalah ‘inti ibadah’) [HR. al-Tirmidzi]. Artinya, orang yang hanya mementingkan “ibadah” tanpa dihiasi dengan do’a, sama aja bo’ong. Ibadahnya ‘tidak indah’ dan ‘tidak sempurna’. Oleh karena itu, beliau mengajarkan kita satu waktu yang benar-benar mustajab dalam menyampaikan do’a dan permohonan kita kepada Allah. “Posisi seorang hamba yang sangat dekat dari Allah adalah ketika dia bersujud. Oleh karena itu, perbanyaklah mengajukan “do’a”.” (Dikeluarkan oleh Imam Muslim).

Manusia yang tidak pernah berdo’a kepada Allah, dia akan merasakan pelbagai kerugian. Dua diantaranya adalah: Pertama, dia dianggap sombong oleh Allah. Orang sombong adalah orang yang paling dibenci oleh Allah. Fir‘aun, Haman, Qarun, Abu Jahal, Abu Lahab, dan yang lainnya, adalah contoh orang-orang yang sombong. Fir‘aun pernah mengaku sebagai ‘tuhan yang paling tinggi’ (Qs. al-Nâzi‘ât [79]: 24). Haman adalah “teknokrat” Fir‘aun yang sangat pongah dan sombong. Qarun adalah “konglomerat” yang sombong: kikir dan menganggap dirinya paling kaya, sehingga tidak membutuhkan Allah dan manusia. Bahkan kekayaannya diklaim sebagai hasil jerih payahnya, hasil ilmu yang ada padanya, dan tidak ada kaitannya dengan Allah. Abu Jahal adalah sosok ‘orang bodoh’: tidak mengenal Tuhan, tapi mengaku paling pintar. Abu Lahab adalah “pengumpul harta” yang tak pernah kenal lelah. Allah dikesampingkan, karena Allah –menurutunya–tidak ada. Akhirnya, dia dan istrinya dibadikan oleh Allah sebagai “pelajaran” bagi mereka yang mau berpikir dan beriman. (Qs. al-Masad [111]: 1-5). Mereka itu lah sampel orang-orang yang sombong: ‘menghapus’ Allah dari memori mereka; tidak butuh kepada-Nya; mementingkan diri sendiri dan menganggap Allah ‘tidak berfungsi’ alias ‘mandul’.

Kedua, karena mereka sombong, maka mereka masuk neraka Jahannam. Allah mengancam bukan tidak sayang. Karena menurut Kanjeng Nabi Muhammad, Allah sangat cinta dan suka mendengar ‘rintihan’ seorang hamba yang meminta dan memohon kepada-Nya. Sejak kita membuka surah pertama Al-Qur’an, Allah telah mengajarkan kita dua hal penting: [1] ibadah dan mohon pertolongan (isti‘ânah), iyya kana‘budu wa iyya kanasta‘in, dan [2] berdoa, ihdina al-shirâthal mustaqîm. Ini lah do’a mohon konsistensi (istiqâmah) dalam menapaki jembatan ibadah menuju Allah. Subhanallah, Allah mengajarkan sejak awal (sejak membuka mata), agar kita senantiasa menyandarkan diri kita kepada-Nya, bukan kepada yang lain.

Sejatinya, Allah, lewat kitab-Nya Al-Qur’an mengajarkan kepada kita agar senantiasa berdo’a kepada-Nya. Tiga surah Al-Qur’an yang mengajarkan kita untuk berdo’a telah disusun dan diurut oleh Allah dengan sangat apik: [1] Qs. al-Fâtihah [1]: 6-7. Di sini Allah mengajarkan kepada kita agar berdo’a untuk memperoleh “jalan istiqâmah” dalam ibadah. Agar kita terhindar dari tingkah-laku dua umat sebelumnya: umat yang dimurkai (Yahudi) dan umat yang tersesat (Nasrani); [2] Qs. al-Baqarah [2]: 286. Di sini Allah mengajarkan beberapa hal: [a] agar Allah tidak‘menghukum’ kita jika kita lupa dan tanpa sengaja melakukan kesalahan; [b] agar jangan membebani kita dengan beban yang pernah dipikul oleh umat terdahulu; [c] supaya Allah tidak membebani kita lebih dari kemampuan kita; [d] agar Allah memaafkan, mengampuni dan merahmati kita. Sesungguhnya Allah adalah Penolong kita, yang mampu memberi kemenangan kepada kita dalam menghadapi orang-orang kafir; [3] Qs. Ali ‘Imrân [3]: 192-194. Do’a dalam surah ini merupakan ciri khusus para Ulul Albab: orang-orang yang cerdas pemikiran dan nalarnya. Allah mengajarkan: [1] agar kita terhindar dari api neraka. Karena orang yang masuk ke dalam neraka, merupakan ganjaran yang memalukan dari Allah; [2] Al-Qur’an adalah “penyeru” kepada keimanan kepada Tuhan (rabb); [3] permohonan agar dosa-dosa kita diampuni, kesalahan-kesalahan kita dihapus dan diwafatkan beserta orang-orang yang baik (al-abrâr); [4] ‘mengundang’ Allah agar menepati janji-Nya dan tidak mempermalukan kita di Hari Kiamat kelak. Sesungguhnya Allah tidak pernah menyalahi janji-Nya kepada para hamba-Nya.

Subhanallah! Allah begitu sayang kepada kita. Dia menyediakan sarana untuk bisa connect dan ‘berdialog’ dengan-Nya. Do’a. Ya, sarana itu bernama do’a. Masih adakah yang tidak mau berdo’a kepada-Nya?! [] (Medan, 7 Syawwal 1428 H/19 Oktober 2007)

0 komentar:

Poskan Komentar