Sabtu, 26 Desember 2009

PEMUDA DAN AL-QUR'AN

Apa pandangan Al-Qur’an terhadap pemuda? Apakah Al-Qur’an membutuhkanku? Ataukah aku yang membutuhkan Al-Qur’an? Pertanyaan seperti ini seharusnya terlontar dari dalam qalbu seorang pemuda Muslim. Ya, pemuda Muslim yang mendaku dirinya sebagai pembawa “panji Al-Qur’an”. Agar mereka menyadari bahwa Al-Qur’an ‘memperhatikan’ mereka. Di era globalisasi semacam ini, pemuda seharusnya melek Al-Qur’an. Artinya, mereka harus intens berinteraksi dengan Al-Qur’an: membuka, membaca, mentadabburi, memikirkan dan mengamalkannya.

Zaman ini adalah zaman penuh ‘fitnah’. Dunia anak muda banyak dihiasi dengan berbagai ‘jerat’ dan ‘perangkap’ syahwat. Pintu-pintu kemaksiatan terbuka lebar-lebar di hadapan mereka. Dan sejatinya, tidak ada jalan keluar dari itu semua kecuali dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an. Berapa banyak pemuda Muslim yang ‘kenal’ Al-Qur’an? Berapa banyak dari mereka yang “membaca” Al-Qur’an? Berapa banyak pula dari mereka yang “faham” atas bacaannya? Dan berapa banyak dari yang “faham” itu “mengamalkan” isi dan kandungannya? Ini saja sudah merupan problem yang sangat akut dan kronis.

Pada masa Rasulullah SAW, para pemuda begitu getol mempelajari Al-Qur’an. Maka tidak heran jika muncul para sahabat dari kalangan ‘anak muda’ yang menjadi ahli Al-Qur’an. Sebut saja, misalnya, Ali ibn Abi Thalib, Abdullah ibn ‘Umar, Mu‘adz ibn Jabal, ‘Abdullah ibn Mas‘ud, dlsb. Bahkan, Nabi SAW memerintahkan para sahabatnya untuk memperoleh bacaan Al-Qur’an --yang baik dan benar--dari mereka. Beliau bersabda, “Ambillah bacaan Al-Qur’an dari empat orang: [1] ‘Abdullah ibn Mas‘ud, mulailah dari dia; [2] Salim: budak --yang dimerdekakan--Abu Hudzaifah; [3] Ubay ibn Ka‘ab; dan [4] Mu‘adz ibn Jabal...” (HR. al-Bukhari-Muslim).

Imagine! Bayangkan, sumber bacaan Al-Qur’an, wahyu Allah, itu numplek di empat orang, tiga di antaranya adalah “pemuda” --selain Ubay ibn Ka‘ab. Selain mereka, seorang pemuda lagi yang menjadi ‘tulang punggung’ penulisan Mushaf di era Rasul hingga zaman ‘Utsman ibn ‘Affan adalah Zaid ibn Tsabit. Dia adalah seorang pemuda yang sangat “cerdas” dan “cerdik”. Zaid ini lah yang diakui oleh ‘pembantu Kanjeng Nabi’, Anas ibn Malik, dalam satu riwayat sebagai orang yang ‘sadar akan Al-Qur’an’. Anas menyatakan, “Yang mengumpulkan Al-Qur’an di masa Nabi SAW ada empat orang dan seluruhnya dari kaum Anshar adalah: [1] Ubay; [2] Mu‘adz ibn Jabal; [3] Bapak si Zaid; dan [4] Zaid ibn Tsabit.” (HR. al-Bukhari-Muslim).

Di mana posisi pemuda kita dibandingkan dengan mereka? Sekarang “koran” menjadi bacaan wajib kaum muda-mudi Islam. “Al-Qur’an” mah gampang dibaca,” menurut sebagian mereka. “Nanti kan ada bulan Ramadhan, di sana aja kita baca habis-habisan tu Al-Qur’an. Pahalanya lebih gede, daripada dibaca sekarang,” kata sebagian yang lain. Sebagian mereka lupa, bahwa panutan mereka semuanya ada dalam Al-Qur’an. Orang yang tidak neko-neko, tidak suka “obral jasa”, dapat dicontoh dari sosok nabi Musa as ketika membantu kedua anak nabi Syu‘aib ketika memberi minum ternak mereka.

Teladan pemuda yang “sabar” dan “lembut hati” ada dalam diri nabi Isma‘il. Pemuda yang kuat dakwah, bahkan berani menghancurkan “berhala-berhala” buatan bapaknya dapat diambil dari kisah nabi Ibrahim. Pemuda yang sangat taat kepada kedua orangtuanya dapat dicontoh dari sosok nabi Isa dan Yahya. Pemudi yang mampu menjaga kehormatannya dapat dilihat dalam kisah Ibunda Maryam (ibu nabi Isa as). Pemuda yang mampu ‘membendung’ arus syahwat dapat ‘diadopsi’ dari nabi Yusuf as. Lihat bagaimana antusiasme nabi Musa dalam menuntut ilmu. Dia berusaha keras agar mampu bertemu dengan hamba Allah yang saleh, nabi Khidir as. Subhanallah! Semuanya ada dalam kitab suci Al-Qur’an.

Jika para pemuda dari kalangan sahabat di atas banyak yang menangis dan sedih karena pernah tidak membaca Al-Qur’an, mayoritas pemuda Muslim sekarang “menangis” kerena ketinggalan berita TV, koran, majalah, tabloid, dlsb. Mereka sedih kalau ketinggalan acara Gosip, Mamia --bahkan Papapia--, berita selebritis, kisah selingkuh para artis, dlsb. Sosok pemuda semacam itu lah yang dikatakan modern. Mereka yang rajin membaca Al-Qur’an: menjadi ‘dara masjid’, tekun ibadah, rajin shalat; dianggap “kuno”, ketinggalan zaman, gak modern, dslb. Tidak salah membaca koran, majalah, tabloid. Tapi silahkan baca itu semua setelah Al-Qur’an. Jangan dijadikan sebagai bacaan primer, jadikan sekunder saja. Primary reading kita adalah “Al-Qur’an”, bukan yang lain.

Para pemuda Muslim banyak yang lupa bahwa kemajuan Islam terletak di tangan mereka. Mereka lupa bahwa Al-Qur’an adalah “inspirasi” kehebatan para pemuda zaman Rasul, Sahabat dan Tabi‘in yang mengagumkan dan menggemparkan dunia itu. Tidak percaya?! Bacalah biografi mereka!

Ya Allah, aku sedang berkhayal dan bermimpi, bagaimana sekiranya para pemuda seperti aku ini bisa ‘sadar Al-Qur’an’. Hamba merindukan suara-suara pemuda itu menghiasi kitab-Mu yang amat agung itu. Hamba rindu kepada ‘Ibnu Mas‘ud, Zaid ibn Tsabit, Mu‘adz ibn Jabal, Salim, ‘Ali ibn Abi Thalib’ di sini, di negeriku: Indonesia. Hamba yakin mereka ada di sini, di sekitarku. Mereka sudah hadir di dekatku, aku sudah merasakan desah nafas mereka. Aku sepertinya tinggal menunggu “booming” aksi mereka saja. Semoga keyakinanku tidak salah ya Rabb.[]

(Medan, Rabu: 24 Oktober 2007)

0 komentar:

Poskan Komentar