Sabtu, 26 Desember 2009

EMPAT SUMBER KESENGSARAAN

“Ada empat sumber kesengsaraan: [1] mata yang ‘jumud’; [2] kerasnya hati; [3] panjang angan-angan; dan [4] loba (tamak) terhadap dunia” (Dikeluarkan oleh Abu Nu‘aim di dalam Hilyat al-Awliyâ’)

Itu keterangan Baginda Rasulullah SAW. Jika keempat hal tersebut ada dalam diri kita, artinya kita sudah ‘siap’ untuk sengsara. Bagaimana?!

Mata ‘Jumud’…

Mata yang jumud adalah mata yang ‘tidak sehat’. Ia banyak dipenuhi oleh kedengkian. Orang Arab biasa menyebutnya dengan ‘ain al-sukhthi, ‘mata yang penuh dengan kecurigaan dan kemurkaan’. Mata jumud adalah mata yang sakit. Ia hanya mampu melihat kejelekan orang lain. Pintar mengorek kesalahan orang lain, lupa dengan kesalahan diri sendiri. “Semut di ujung lautan tampak nyata, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan,” demikian pepatah orangtua menyatakan. Orang yang memiliki ‘mata jumud’ melihat semua orang “bersalah”, tidak sempurna dan penuh kekurangan. Sementara dia melihat dirinya sangat perfek dan tidak punya aib dan cacat. Orang model ini hanya akan menyiksa dirinya, karena dia ke mana-mana akan membawa ‘topeng’ wajahnya. Agar dia mampu menutupi kekurangan dan aib dirinya. Bukankah ini menyiksa diri? Karena dia selalu menampilkan artificial performance: penampilan palsu, tidak natural.

Keras Hati…

Hati yang keras hanya akan membuat pemiliknya ‘tersiksa’. Hati model ini hanya akan ditempati dan dipenuhi oleh perasaan negatif: takabbur, iri, dengki, marah, dslb. Keras hati adalah sifat orang-orang Yahudi (Qs. Al-Baqarah [2]: 73). Hati mereka keras bagai batu, bahkan lebih keras lagi kata Allah. Karena dari antara batu-batu itu ada yang mengalir sungai-sungai; ada juga yang terbelah lalu dari belahannya memancar air dan bahkan ada batu yang meluncur jatuh sanking takutnya kepada Allah.

Hati yang keras biasa ‘getol’ dan tegar mempertahankan kebatilan. Juga, sering tertutup dari cahaya kebenaran. Hati yang kesat, keras dan diwarnai syahwat akan semakin membuat hidup pemiliknya tak karuan. Ia akan terus menyuruh dan mengajak tuannya melakukan dosa dan kemaksiatan kepada Sang Khaliq. Padahal maksiat dan dosa selalu menimbulkan rasa was-was, labil, tak tenang, dan merasa bersalah. Bukankah ini sangat menyiksa?!

Panjang Angan-angan…

Thulu al-amal, terlalu banyak bercita-cita dan angan-angan. Tidak ada angan-angan yang realistis, semuanya ‘melangit’. Orang yang panjang angan-angan biasanya tidak memiliki gairah hidup. Hidupnya statis dan stagnan. Kenapa? Karena dia mengharapkan langit dapat menurunkan emas.

Suatu hari, khalifah ‘Umar ibn al-Khatthab melihat orang yang khusyuk berdoa di masjid, sampai menjelang siang. Ia banyak sekali mengajukan permintaan kepada Allah. Ia berangan-angan bahwa dengan doa itu Allah akan menurunkan seluruh yang dia minta, meskipun tanpa usaha. ‘Umar lalu menegurkan, “Hei fulan, jangan hanya banyak berdoa, sana pergi kerja. Sungguh, langit tidak akan menurunkan emas karena doamu itu.”

Rezki, pangkat (jabatan), dan harta tidak bisa tercapai lewat sim salabim. Ia juga tidak dapat dinikmati hanya lewat ‘zikir jikalau’: seandainya, sekiranya, kalau saja, dlsb. Orang yang panjang angan-angan bukan orang yang produktif. Apa yang ia lakukan semuanya kontra-produktif. Karena angan-angannya tidak realistis –karena usahanya tidak riil–maka yang dia peroleh ada kekecewaan dan kesusahan.

Loba, Tamak, Rakus…

Ini juga sangat menyiksa batin. Karena sikap tamak (rakus) terhadap dunia akan menyeret pelakunya kepada jurang kesengsaraan. Yang ada dalam file kepalanya hanya 3 TA (Harta, Tahta dan Wanita). Ini lah sifat orang Yahudi. Bahkan mereka menginginkan dapat hidup seribu (1000) tahun lagi (Qs. Al-Baqarah [2]: 96). Nafsu duniawi mereka ini melebihi orang “musyrik”.

Orang yang hanya mengejar dan menumpuk harta kekayaan kasusnya mirip dengan orang yang ‘minum air laut’. Semakin meminumnya, semakin haus tenggorokannya. Tidak ada habisnya. Bahkan menurut Rasul SAW, orang seperti itu tidak ada yang memenuhi perutnya, kecuali “tanah” alias kuburan. Mati saja. Baru urusannya selesai. Sifat tamak ini sangat menyiksa, karena tidak akan patuh kepada hukum Allah. “Halal-haram” baginya nomor sekian puluh. Yang penting adalah menumpuk kekayaan. Banyak kasus diberitakan, suami yang “saleh”, gara-gara memiliki istri yang tamak dapat menjadi suami ‘salah’.

Orang yang rakus biasanya tidak mau bersikap qanâ‘ah: merasa cukup dan puas terhadap nikmat Allah yang diterimanya. Ia hanya akan melihat orang yang posisi duniawinya berada di atasnya. Padahal, itu sangat menyiksa. Karena di akan dipaksa oleh nafsunya. Ini lah yang diingatkan oleh Kanjeng Nabi SAW, “Lihatlah orang berada di bawah kalian, dan jangan lihat orang yang berada di atas kalian. Karena sesungguhnya itu lebih pantas, bagi kalian, agar kalian tidak memandang rendah nikmat Allah yang diberikan kepada kalian.” (HR. Al-Bukhari).

Rasanya kita sama-sama sepakat, bahwa kita tidak mau sengsara. Tentu kita harus konsisten (istiqâmah) dengan kesepakatan ini. Bahwa kita harus ‘mendidik’ mata (pandangan) kita agar tidak menjadi “jumud”. Kita harus ‘memenej’ qalbu, agar tidak menjadi “keras”. Kita harus melatih pikiran kita, agar kita tidak suka berangan-angan kosong. Dan kita harus melatih nafsu kita, agar tidak menjadi ‘nafsu jalang’: tamak, rakus, loba dan serakah. Semoga! [] (Medan: Kamis, 22 Nopember 2007)

0 komentar:

Poskan Komentar