Sabtu, 26 Desember 2009

MAMPIR NGOMBE

Saya ingin menulis refleksi ringan tentang kehidupan manusia di atas dunia. Kehidupan kita, di dunia fana.

Hakikatnya, kita semua adalah ‘musafir’. Hanya berteduh di bawah pohon yang rindang yang bernama “dunia”. Suatu saat, kita akan meninggalkan pohon itu. Kita akan terus berjalan menuju tempat yang sebenarnya, ‘kampung akhirat’. Ya, kampung “terakhir”: kampung keabadian.

Musafir yang baik dan bijak, dia tidak akan terpesona dengan indahnya panorama dan tiupan angin yang sepoi-sepoi di sekitar “pohon”. Karena itu bukan tujuan utamanya. Tapi, musafir yang tanpa bekal dan –tanpa–tujuan yang jelas, akan tertipu oleh ‘akesoris’ yang ada mengitar pohon tersebut. Bisa jadi, dia akan tertidur pulas di bawahnya. Sehingga, dia tidak ‘rela’ dan tidak kuasa untuk meninggalkannya. Akhirnya, dia jadikan pohon itu sebagai “tempat tinggalnya”. Dia pun enggan untuk meninggalkannya.

Padahal Baginda Rasulullah SAW mengingatkan kita bahwa di dunia ini kita hanya sebagai ‘orang asing’ (gharib). Artinya, ini bukan kampung kita. Ini bukan residen kita yang hakiki. Beliau mengingatkan, “Bersikaplah di dunia seperti orang asing atau (hanya) sekedar lewat.” (HR. Al-Bukhari). Ya, kita hanya numpang lewat. Nasehat khusus itu Nabi SAW bisikkan dengan sangat mesra ke telinga ‘Abdullah ibn ‘Umar ibn al-Khatthab, sembaring memegang pundaknya yang kokoh.

Saat itu, ‘Abdullah pun bertutur, “Jika engkau di sore hari, maka jangan tunggu pagi hari. Dan jika engkau berada di pagi hari, jangan tunggu sore hari. Ambillah kesempatan sehatmu untuk (bekal) sakitmu, dan hidupmu untuk (bekal) matimu.”

Benar sekali! Kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang masih diberikan oleh Allah kepada kita. Pagi ini kita hidup, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Karena bisa jadi sore nanti kita dipanggil oleh ‘Sang Pemilik’ kehidupan. Mungkin sore hari kita masih diberi nafas, maka kita pergunakan nafas itu. Karena bisa jadi, orang-orang pada bangun di pagi hari, kita ternyata ‘tidur selamanya’.

Imam Abu Dawud al-Tha’i pernah bertutur, “Malam dan siang hakikatnya adalah fase-fase yang dilalui oleh manusia, sampai mereka sampai kepada ujung perjalanan mereka. Jika di setiap fase itu engkau bisa mengumpulkan bekal, maka lakukanlah. Sungguh, keterputusan perjalanan itu sangat dekat. Dan masalahnya lebih cepat dari itu. Maka perbanyaklah bekal untuk perjalananmu…”

Di dunia ini kita hanya ‘mampir ngombe’. Maka, kita harus banyak mengisinya dengan segala bentuk dan ragam ketaatan kepada Rabb kita. Sebelum kesempatan hidup dan desahan nafas dikembalikan kepada pemiliknya. Segala bekal dalam perjalanan kita, itulah yang akan kita ‘ketam’ di kampung kita yang sesungguhnya.

Orang yang sadar bahwa hidup ini hanya ‘mampir ngombe’, dia tidak pernah menyia-nyiakannya. Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun adalah ‘beker’ pengingatnya. Yang selalu berdering di qalbu-nya bahwa hidup ini hanya mampir ngombe. Semoga.[] (Medan, Minggu: 25 Nopember 2007)

0 komentar:

Poskan Komentar