Sabtu, 26 Desember 2009

HAKIKAT MALU KEPADA ALLAH

Pernah merasa malu kepada Allah? Saya kira, jawabannya antara “ya” dan “tidak”. Alasannya pun pasti beragam. Tapi, biarlah “ya” dan “tidak” qalbu kita yang menjawabnya. Mari kita test kadar rasa “malu” kita lewat dialog Kanjeng Nabi Muhammad SAW dengan sahabatnya di bawah ini.

Suatu ketika, Nabi SAW berseru di hadapan para sahabatnya, “Wahai manusia, malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar malu.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah kami telah merasa malu kepada Allah?” Rasulullah kemudian menjawab, “Barangsiapa malu kepada Allah; ia: [1] tidak akan tidur nyenyak di malam hari, karena ajal selalu mengintai di hadapannya; [2] akan menjaga perut dan isinya; [3] memelihara kepala dan pikirannya; [4] mengingat mati dan cobaannya; dan [5] meninggalkan kemegahan dunia.” (HR. Ibnu Majah).

Itulah hakikat malu menurut Baginda Rasulullah SAW. Bagaimana dengan malu yang ada dalam diri kita? Sudahkah seperti yang dianjurkan oleh Rasul SAW? Atau sebaliknya?

[1] Tidak tidur nyenyak. Maksudnya bukan tidak tidur, tapi sebagian malam ada waktu khusus ‘untuk Allah’. Tidur adalah kebutuhan jasmani. Rasulullah pun tidur di malam hari. Bahkan menurut beliau, “tidur adalah hak badan kita”. Jadi, yang perlu dibudayakan di sini adalah bagaimana kita menyediakan waktu khusus untuk bermunajat kepada Allah, ketika orang lain --mungkin--tertidur pulas di atas kasur empuknya. Karena menurut Allah --dalam surah al-Muzammil--bacaan shalat malam lebih berkesan. Tidurlah di malam hari, tapi jangan lupakan Allah yang memberikan nikmat ‘mengantuk’ dan nikmat ‘cita rasa tidur’ kepada kita.

[2] Menjaga perut. Ya, perut adalah ‘mesin’ manusia. Ia harus diisi agar bisa bergerak dengan baik dan stabil. Tetapi, isi perut haris ‘diedit’: tidak asal makan, tidak asal masuk, tidak asal caplok. Yang namanya mesin, isinya tidak boleh “heterogen”. Homogenitas isi perut harus benar-benar dipertahankan. Maksud saya adalah “kehalalan” makanan. Makanan --apapun bentuk dan modelnya--harus halal dan baik, halalan thayyiban kata Allah SWT di dalam Al-Qur’an. Zaman sekarang ini, orang tidak malu lagi nyaplok makanan. Tak peduli halal-haram, yang penting perut kenyang. Bahkan sudah ada statemen yang sangat memalukan dan memilukun, “Jangankan yang halal, yang haram saja susah dicari.” Na‘udzu billah min dzalik. Orang yang asal masukkan makanan ke dalam perut besarnya adalah orang yang tidak tahu malu di hadapan Allah. Allah sudah menyediakan rezki yang begitu banyak, kenapa masih ada rasa sulit dalam menjemputnya?

[3] Memelihara kepala dan isinya. Yups, kepala harus dijaga. Jangan asal mikir. Jangan asal puter otak. Semuanya harus dipertimbangkan dengan baik dan matang. Positive thinking, ini mungkin yang pas istilahnya. Kata orang Arab, al-tafkîr al-îjâbî, berpikirlah dengan positif. Jangan selalu berpikir yang ngeres, kotor, jahat, su’uzzhann, dlsb. Tentang rezki, berpikirlah dengan baik (husnuzzhan) kepada Allah. Tentang prestasi, berpikirlah dengan baik dan sehat tentang usaha kita dalam meraihnya. Tentang ibadah kepada Allah, koreksi (muhasabah)lah setiap saat, agar grafiknya meningkat dan semakin mantap. Menurut seorang ahli, berpikir negatif (su’uzzhan) adalah satu cara agar cepat mati.” Tuh, emangnya enak?

[4] Mengingat mati. Bukan hanya mengingat mati, tapi juga cobaannya kata Baginda Rasul SAW. Apa cobaan kemaatian itu? Cobaannya adalah sakaratul maut, “sakitnya merasakan ruh ketika keluar dari tubuh”. Ya Allah. Kita selalu merasa maut itu masih jauh, sehingga kita tidak pernah merasa malu kepada Allah. Kita selalu merasa bahwa amal kita sudah baik, sudah sempurna. Dengan begitu, kita tidak pernah merasa dan berpikir bahwa maut akan datang menjelang. Zikru hadimi al-ladzdzat harus diperbanyak kata Nabi SAW. “Aktsiru min dzikri hadimi al-ladzdzat, “Perbanyaklah mengingat sang pemutus kenikmatan”. Ya, kita harus banyak mengingat mati, kalau kita benar-benar merasa malu kepada Allah. Nabi SAW saja ketika merasakan sakitnya sakaratul maut sampai berkeringat dan berkata, “Inna lilmauti lasakarat, “Sungguh, kematian itu memiliki rasa sakit yang sangat dahsyat, ketika ruh mau keluar dari tubuh”. Istrinya tercinta, Ibunda Aisyah, sampai berulang-ulang membasuhkan air ke muka beliau yang sangat mulia itu. Lha, kita? Seberapa sering kita mengingat mati? Jangan-jangan kita tidak pernah mengingatnya.

[5] Meninggalkan kemegahan dunia. Bukan meninggalkan kenikmatannya. Karena nikmat yang ada didunia ini memang diciptakan untuk kita oleh Allah. Yang tidak benar adalah, kita terlalu bermegah-megah dalam menikmatinya, sampai kita tidak merasa malu kepada Allah. Dia-lah Sang Pemberi rezki di dunia ini. Kita tidak boleh asal comot rezki-Nya, ada aturan main di dalamnya. Di dalam surah al-Takatsur Allah telah mengingatkan, “Kalian telah dilalaikan oleh gaya menumpuk-numpuk kemegahan dunia. (Kalian baru sadar) sampai kalian ‘ziarah’ ke alam kubur.” Ya, ketika kita ‘ziarah’ (singgah sebentar) di alam barzakh, kita baru tahu ternyata peringatan Allah itu benar. Kebanyakan mengejar duniawi, menumpuk kekayaan yang tiada henti dan tanpa batas membuat qalbu kita mati. Kita tidak malu kepada Allah. Dilalaikan oleh kenikmatan dunia, akhirnya kita lalai dari zikrullah yang lebih nikmat dari makanan dan minuman apapun. Zikrullah lebih tenang dari ketenangan mana pun. Ala bidzikrillah tathma’innul qulub. Ingat, kata Allah, dengan berzikir kepada Allah lah hati-hati kalian menjadi tenang dan tentram. Silahkan dinikmati kenikmatan dunia ini, tapi jangan lupakan akhirat. Di sana kampung halaman kita yang hakiki. Dan kita pasti akan kembali ke sana. “Carilah apa-apa yang telah diberikan kepadamu dari kehidupan akhirat. Namun jangan lupa untuk menikmati bagianmu di dunia ini.” (Qs. al-Qashash: 77).

Ya Allah, hidupkan lah qalbu kami dengan ”rasa malu’” kepadamu. Tolonglah kami agar senantiasa mengingat-Mu, bersyukur atas nikmat-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu. Amin ya Rabbal ‘Alamin. [] (Medan, 23 Oktober 2007)

0 komentar:

Poskan Komentar