Sabtu, 26 Desember 2009

HAMBA BERDEBAT DENGAN ALLAH

Allah di dalam Kitab-Nya (Al-Qur’an) mengabarkan kepada kita bahwa seluruh organ tubuh kita akan menjadi “saksi” atas perbuatan dan amal kita. Dengan sangat gamblang Allah menjelaskan, “Pada hari ini Kami ‘mengunci’ seluruh mulut mereka. Tangan-tangan mereka berbicara kepada kami, dan kaki-kaki mereka memberikan kesaksian terhadap apa yang telah mereka usahakan.” (Qs. Yasin [36]: 65). Ya Allah. Pada hari itu kita tidak bisa “berkutik”. Lisan kita yang selama ini lihai menipu, pandai berdusta serta pintar ber‘silat lidah’, tidak berdaya pada hari itu. Karena mulut-mulut kita sudah di‘bungkam’ serapat-rapatnya oleh Allah.

Suatu ketika, Rasulullah SAW tertawa dan tersenyum. Beliau kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Tidakkah kalian bertanya, kenapa aku tertawa?” Mereka kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau tertawa?” Beliau kemudian menjawab, “Aku heran, seorang hamba kok bisa-bisanya ‘mendebat’ Tuhannya pada hari kiamat. Hamba itu berkata, “Wahai Tuhan, bukankah Engkau telah berjanji kepadaku bahwa Engkau tidak akan berbuat zalim kepadaku?” “Benar,” jawab Allah. Hamba itu kemudian berkata lagi Allah, “Sungguh, aku tidak mau ada seorang saksi yang memberikan kesaksian untukku, kecuali diriku sendiri. Allah kemudian berkata, “Bukankah Aku dan para malaikat pencatat amal yang mulia sudah cukup sebagai saksi?! Hamba itu tetap ‘membandel’ dan mengulang-ulangi bantahannya. Lalu Allah ‘mengunci’ mulutnya. Mulailah seluruh anggota badannya berbicara tentang apa yang telah dia kerjakan. Melihat kesaksian anggota tubuhnya, ia laku berkata, “Sialan kalian semua. Padahal aku sedang mendebat –untuk berdusta kepada Allah—tentang kalian. Malah kalian pula yang bersaksi atas perbuatanku.” (Dikeluarkan oleh al-Bazzar, Ibnu Abi Hatim dan Muslim).

Begitulah. Sebenarnya, kita masuk surga kan bukan karena amal-amal saleh kita, melainkan dengan rahmat Allah SWT. Kita tidak usah ‘memaksa’ Allah dalam hal itu. Itu hak prerogatif sang Rabb. Yang penting kita mencari ridha-Nya saja. Cukup sudah. Tidak usah minta yang lain.

Tentang kesaksian anggota tubuh kita kelak, Allah menjelaskan lagi, “Sehingga, ketika pendengaran mereka, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi atas amal-amal mereka, mereka bertanya kepada kulit-kulit mereka, “Kenapa kalian menjadi saksi atas kami?” Kulit-kulit itu menjawab, ”Allah yang telah menjadikan segala sesuatu dapat berbicara telah menjadikan kami bisa berbicara. Dan Dia-lah sejak pertama kali telah menciptakan kalian dan kepada-Nya kalian dikembalikan. Dan kalian tidak dapat menutupi pendengaran, penglihatan dan kulit-kulit kalian untuk memberikan kesaksian. Tapi kalian mengira bahwa Allah tidak tahu banyak tentang apa yang telah kalian kerjakan. Itulah dugaan kalian terhadap Tuhan kalian yang telah menghancurkan kalian, sehingga kalian menjadi orang-orang yang merugi.” (Qs. Fushshilat [41]: 20-22). Tak terbayangkan, apa yang akan kita katakan di hadapan Allah SWT di Hari Kiamat nanti. Di depan manusia, kita mungkin masih bisa berdalih, berkelit dan ‘cuci tangan’ dari perbagai permasalahan yang mengitari kita. Atau, bahkan berani memutar-balikkan fakta yang ada, untuk menjustifikasi keinginan kita.

Lihatlah para koruptor di negeri kita. Mereka dengan gampang ‘menggusur’ tanah rakyat, memakan uang rakyat, memalsukan dokumen kuangan, dslb. Mereka tidak sadar bahwa ada ‘dunia lain’ selain dunia ini. Mungkin mereka bisa lolos dari ‘pengadilan dunia’ –yang tanpa keadilan itu—tapi dia tidak akan bisa lolos dari “pengadilan Allah”.

Kita juga demikian. Kita sering berdusta. Kita selalu meninggalkan kewajiban kepada Allah: shalat, zakat, haji, puasa, dlsb. Alasan kita pun macam-macam. Berbagai dalil kita keluarkan untuk berkelit dan mengelak dari kewajiban. Ingat, itu hanya bisa sekarang, di dunia. Di akhirat kita tidak “berkutik”. Ketika seluruh anggota tubuh kita menjadi saksi, ”tidak ada satu pun yang tak terhakimi” kata Opick. Kita akan ‘diam seribu bahasa’.

Mari kita sadari, bahwa pengawasan Allah begitu “melekat”. Tak ada satu amalpun, baik besar maupun kecil, yang luput dari pandangan Allah. Tak ada satu pekerjaan pun yang tidak tercatat dalam ‘Catatan-Nya’. Semuanya akan kita saksikan. Dan semuanya akan kita terima dengan ‘jurdil’. Semoga, anggota tubuh kita menjadi saksi yang jujur dan adil. Kuncinya, jujur dan adil lah kita sejak sekarang. []

(Medan, Minggu: 8 Syawwal 1428 H/21 Oktober 2007)

0 komentar:

Poskan Komentar