Sabtu, 26 Desember 2009

BUDAYA INSTANT

Instant cultural. Ya, saya lebih senang menyebutnya demikian. Satu budaya dimana segala sesuatu ingin dicapai, diperoleh dan dinikmati dengan “cepat” alias “siap saji”. Tentu saja ini budaya “jelek” dan tak layak untuk “dibudayakan”.

Alkisah, Nasruddin Hoja memberi minum ayamnya dengan “air panas”. Spontan para tetangganya protes. Menurut mereka, Nasruddin keterlaluan dan ‘tak berotak’. “Nasruddin, kenapa engkau memberi minum ayammu dengan air panas?” tanya mereka kesal. Dengan enteng Nasruddin menjawab, “Ia, supaya ketika telurnya keluar sudah matang. Jadi aku gak perlu susah-susah lagi merebus telur ayam.”

Sejatinya, Nasruddin ingin menyindir fenomena kehidupan modern kita. Ia ingin mengatakan bahwa di zaman modern ini, manusia ingin menikmati prestasi, kemewahan, glamour dunia, aksesoris dunia dan lain sebagainya “tanpa proses”. Mereka seolah melupakan prinsip “result by process”. Nilai itu hanya dapat diperoleh lewat proses. Kenikmatan harus diawali dengan “kesulitan”. Pepatah Arab menyatakan, “Wamaa al-ladzdzatu illa ba‘da al-ta‘abi” (Tidak ada kenikmatan kecuali setelah melewati masa kesulitan dan kesusahan).

Nasruddin juga ingin menyatakan bahwa bukan “ayam” yang ingin telurnya keluar dari “duburnya” langsung “matang”, melainkan tuannya. Artinya, banyak orang tua sekarang ini menginginkan anaknya sukses tanpa proses. Maka muncul istilah ‘sarjana karbitan’. Sarjana yang diwisuda tanpa proses belajar. Dari mana gelarnya? Hasil pembelian. Ilmu dan gelar sekarang tidak harus ‘dijemput’ lewat bangku kuliah. Ilmu sekarang bukan hal yang penting. Yang penting adalah “duit”. Bagaimana memperoleh “duit” yang “gampang”, cara itulah yang ditempuh. Walaupun cara itu “tidak ilmiah”, harus menyogok (risywah), menipu, memanipulasi data, dlsb. Masalah “halal-haram” adalah nomor sekian puluh.

Proses adalah sunnatullah. Matahari tidak mungkin langsung terbit seperti di siang hari. Ada prosesnya. Anak bayi tidak mungkin langsung diberi makan “jengkol”. Ada prosesnya. Bangku sekolah pun punya tingkatannya. Itu lah sistem klasikal: perkelas, pertingkat. Tidak bisa anak SD langsung melompat ke SMU, misalnya. Saya khawatir, gelar yang diperoleh tanpa ‘bangku belajar’ akan menghilangkan keberkahan ilmu. Kenapa? Karena telah melanggar sunnatullah itu.

Dalam interaksi sosial pun bidaya “instant” ini banyak digemari. Khususnya dalam pergaulan muda-mudi. Maka ada kasus orang menikah baru 3 bulan, tapi anak sudah lahir. Bukankah itu perzinaan namanya? Dan orang yang berzina, memang, adalah orang yang tidak mau melewati “proses”. Dia mau instant. Asal serobot, tanpa proses akad. Dia langsung ingin menikmati ‘kenikmatan’ yang belum sah dan haram untuk ‘dinikmati’ kecuali telah melalu proses yang benar.

Allah telah mengajarkan bahwa hidup ini butuh proses. Tidak ada yang instant di dunia ini. Allah saja, di dalam Al-Qur’an, menciptakan langit dan bumi beserta isinya dalam “enam masa” (fi sittati ay├ómin). Allah juga dengan sangat apik mengisi bumi dengan berbagai jenis tanaman dan tumbuh-tumbuhan. Dia juga menghiasi langit dengan ‘lampu-lampu’ ciptaan-Nya. Itu semua tidak terjadi dalam satu waktu, tapi dalam beberapa masa. (Lihat misalnya Qs. Fushshilat [41]: 9-12). Padahal Allah Mahakuasa untuk menjadikan keduanya lewat kata kun fayakun. Tapi Allah ingin memberikan pelajaran dan pendidikan kepada kita bahwa tidak ada yang instant dalam hidup ini.

Sejatinya, orang yang mau flas-back, melihat pertumbuhan dirinya: dari sejak kedua orangtuanya ‘berhubungan intim’; kemudian terciptalah embrio dalam rahim ibunya; menjadi bayi; anak-anak; remaja; dewasa; tua, dst, akan menyadari bahwa hidup ini memang memerlukan “proses”. Dengan begitu, dia tidak akan ‘nekat’ melakukan hal-hal yang melanggar sunnatullah. Dan segala sesuatu yang melanggar sunnatullah, biasanya tidak akan bertahan lama. Karena dia telah menghilangkan satu prinsip hidup, yaitu proses. Jika satu prinsip ini hilang, maka keberkahan juga akan ikut sirna. Jika keberkahan sirna, maka tidak ada kenikmatan. Dan seandainya kenikmatan itu telah tiada, tidak ada lagi yang disebut dengan hidup dan kehidupan. Yang ada hanya “kegersangan”. Karena tidak ada yang patut dibanggakan dari usaha kita. Semoga.[]

(Medan, Minggu: 8 Syawwal 1428 H/21 Oktober 2007)

0 komentar:

Poskan Komentar