Sabtu, 26 Desember 2009

JANGAN "HIJRAH" DARI AL-QUR`AN

Bagi Mukmin sejati, Al-Qur’an adalah way of life: pandangan dan rambu-rambu kehidupan yang sangat sempurna. Oleh karenanya, di dalamnya tidak ada keraguan (Qs. Al-Baqarah [2]: 2) sedikitpun. Sehingga, dia benar-benar menjadi petunjuk bagi orang-orang Mukmin yang “takwa”. Yaitu orang-orang yang tidak berlaku sombong; senantiasa bersikap qana‘ah (bersyukur terhadap nikmat Allah s.w.t. dengan menerima apa adanya); menjaga lisan dan lambungnya agar tidak menjadi ‘kran’ dan ‘lumbung’ harta yang syubhat (samar-samar hukumnya); dan mereka yang memiliki keyakinan yang menggumpal kepada Allah s.w.t.

Al-Qur’an adalah samudera yang ‘tak bertepi’. Dalam bukunya Jawahir al-Qur’an, Hujjatul Islam, Abu Hamid al-Ghazali (450-505 H) bertanya: “Setelah memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah s.w.t., yang menurunkan segala pembuka kitab, serta shalawat kepada para Rasul-Nya yang menjadi pengunci setiap kitab; maka saya benar-benar menggugah tidur Anda, wahai orang yang selalu tekun membaca dan mengamalkan kajian Al-Qur’an. Anda, yang selalu menyelami makna-makna realitas dan globalnya, sampai kapan Anda mengarungi samudera sambil memejamkan mata dari keanehan-keanehannya? Ataukah Anda menaiki puncak-puncak gelombang untuk melihat keajaiban-keajaibannya? Apakah Anda telah mengembara sampai jazirahnya hingga menemui keindahannya? Apakah Anda menyelami dan mengarungi kedalamannya, untuk menemukan mutiaranya? Ataukah mata Anda tertutupi dari mutiara-mutiaranya, karena terpesona oleh ombak dan gemuruh fenomenanya? Sudah sampaikah kepada Anda, bahwa Al-Qur’an merupakan samudera maha luas?

Pertanyaan-pertanyaan di atas begitu menggelitik. Bahkan, kalau kita hayati kita akan merasa “malu”. Sangat malu! Benar-benar memalukan dan memilukan. Karena interaksi kita dengan Al-Qur’an tidak begitu ‘mesra’. Bahkan menyentuh kulitnya pun bisa jadi belum. Bagaimana mungkin kita akan berlayar di tengah-tengah samudera Al-Qur’an. Padahal, sebaik-baik seorang Muslim menurut Rasulullah s.a.w. adalah: “Sebaik-baik kalian adalah yang “mempelajari” Al-Qur’an dan “mengajarkannnya” kepada orang lain.” (HR. Bukhari, Tirmidzi dan Ahmad). Anehnya, dewasa ini justru umat Islam banyak yang acuh tak acuh terhadap Kitab Suci mereka. Al-Qur’an bagi sebagian mereka tidak jauh beda dengan “koran”. Na‘udzu billah min dzalik! Bahkan mereka lebih intens dan sering berinteraksi dengan “koran” ketimbang Al-Qur’an. Bagaimana mungkin pertanyaan-pertanyaan Imam al-Ghazali di atas dapat dijawab dengan jujur. Lalu apakah penyebab dari fenomena umat Islam yang semakin “jauh” dari Al-Qur’an ini? Jawabannya adalah: “Hijrah Al-Qur’an”. Ya, umat Islam sudah banyak yang ‘hijrah’ dari Al-Qur’an.

‘Hijrah’ dari Al-Qur’an?

Ya, ini fenomena umum dari umat Islam. Fenomena umat yang menyedihkan ini pernah diadukan oleh Rasul s.a.w. kepada Allah s.w.t. Kata beliau: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah ‘hijrah’ dari Al-Qur’an ini.” (Qs. Al-Furqan [25]: 30).

Hijrah dari Al-Qur’an ada tiga modelnya. Pertama, ‘hijrah’ bacaan. Banyak umat Islam sudah enggan untuk membaca Al-Qur’an. Walaupun membaca, belum tentu benar bacaannya. Jika benar bacaannya, belum tentu diamalkan. Meski diamalkan, belum tentu ikhlas dalam mengamalkannya. Banyak kemungkinan memang. Dan kemungkinan itu jelek semuanya. Membaca Al-Qur’an merupakan ‘gerbang’ awal untuk berinteraksi dengannya. Adalah mustahil dapat berinteraksi dengan Al-Qur’an, jika pintunya tidak pernah kita buka. Padahal, satu huruf Al-Qur’an, kata Nabi s.a.w., akan diganjar dengan “sepuluh” kebaikan oleh Allah s.w.t. “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur’an), ia memperoleh satu kebaikan, dan kebaikan itu diganjar sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan ‘Alif, Laam, Miim’ itu satu huruf. Melainkan Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi). Bahkan, menurut beliau, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan dia pandai, dia bersama para malaikat yang baik dan mulia.” (HR. Tirmidzi). Masya Allah! Subhanallah!

Maka, merugilah orang-orang yang tidak mau menghampiri Kitabullah yang mulia ini. Jin saja ikhlas menghampiri Al-Qur’an (Qs. Al-Jinn [72]: 1), lalu kenapa kita tidak mau membacanya. Padahal Al-Qur’an itu untuk manusia (Qs. Al-Rahman [55]: 2).

Kedua, ‘hijrah’ tadabbur. Membaca saja tidak cukup. Bacaan harus diikuti dengan tadabbur-Qur’ani. Agar bacaan Al-Qur’an itu meresap ke dalam relung qalbu, maka ia tidak boleh hanya sekedar lewat lisan atau bibir pembacanya. Ia harus merayap masuk ke dalam qalbu. Agar sekat-sekat qalbu yang ‘kering’ dan kosong diisi oleh cahaya Kalamullah, ‘Firman Allah’ yang penuh keagungan dan mukjizat tak tertandingi ini. Untuk apa tadabbur Al-Qur’an? Menurut Allah s.w.t. agar kita benar-benar memahami secara mendalam bahwa Kitabullah ini seluruh ayat dan kandungannya benar-benar serasi dan harmonis. Tidak ada satu ayatpun yang kontradiktif (Qs. Al-Nisa’ [4]: 82). Selain itu, tadabbur-Qur’ani itu akan membuka ‘gembok-gembok’ qalbu (Qs. Muhammad [47]: 24). Dengan begitu, kita akan semakin yakin bahwa Al-Qur’an benar-benar the last testement. Yakni, perjanjian terakhir antara Allah, Nabi dan manusia. Sehingga, tidak ada yang lebih sempurna (kamil) dan komprehensif (syamil) dalam menyentuh sisi dan lini kehidupan manusia selain Al-Qur’an: sejak alam arwah (azali) hingga alam akhirat. Sungguh, bacaan Al-Qur’an yang diiringi dengan tadabbur mendalam akan melahirkan syawq (kerinduan mendalam) terhadapnya. Dengan begitu, qalbu akan terus merasakan siraman cahaya Ilahi lewat kitab-Nya. Sungguh indah memang!

Ketiga, ‘hijrah’ amal. Ya, bacaan dan tadabbur yang dilakukan oleh seorang Mukmin tidak akan berarti apa-apa jika tidak diaplikasikan dalam kancah kehidupan nyata. Apa yang telah dibaca dan ditadabburi harus diamalakan, jangan dibiarkan mengambang dan tak membumi. Di dalam Al-Qur’an ada perintah dan larangan. Ada rukun Islam. Baca, tadabburi lalu amalkan. Di dalamnya dijelaskan rukun iman. Baca, hayati, tadabburi dan amalkan. Di dalam Kitabullah ada perintah berbuat adil, ihsan (baik tanpa batas), melaksanakan amanah (jabatan), dll. Maka, baca, tadabburi kemudian amalkan. Kalamullah ini adalah gambaran “alam” dan “manusia”. Maka ia harus dibaca, ditadabburi dan diamalkan. Jika tidak, maka misi Allah tidak akan sempurna. Padahal Al-Qur’an berbicara tentang dua kitab besar: pertama, kitab terbuka, yaitu kosmos (al-kaun) alias alam. Dan kedua, Al-Qur’an. Jembatan antara keduanya adalah seorang “manusia Mukmin-Muttaqin”. Fungsi “manusia Mukmin-Muttaqin” adalah adalah khalifatullah (wakil Allah) di bumi. Maka dia harus melakukan ‘imaratul ardhi, memakmurkan bumi. Perintah itu tertuang dengan sempurna di dalam Kitabullah. Maka fungsi manusia tidak akan sempurna kecuali mengamalkan kandungan Al-Qur’an. Khalifah itu tidak boleh: curang, penzina, pemabuk, tidak adil, tidak sopan, tidak shalat, tidak peka lingkungan, tidak syahadat, tidak zakat, tidak puasa, tidak haji. Dan itu dapat diambil dari Kitabullah. Maka, jangan pernah mau ‘hijrah’ dari Al-Qur’an. Siapa saja yang ‘hijrah’ darinya, berarti menjauhi Rasul s.a.w. Dan tanpa dia sadari telah menjauhi Allah s.w.t. Pada gilirannya, hidupnya akan hampa: kering kerontang tak bermakna. Alangkah meruginya! Wallahu a‘lamu bi al-shawab. [Q].

0 komentar:

Poskan Komentar