Jumat, 30 Oktober 2009

AL-QUR'AN (2)

Meniti Tangga-tangga Keikhlasan[1]:

Tafsir Surah al-Ikhlās


‘Katakanlah: Dia lah Allah yang Maha Esa.

Tempat bergantung segala sesuatu.

Tidak beranan dan tidak diperanakkan.

Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia’

~Qs. Al-IkhlāÎ (112): 1-4~

Muqaddimah


Rubbamā dakhala al-riyā’ ‘alayka min Íaytsu lā yanÐuru al-khalq ilayka (Mungkin saja ria masuk ke dalam dirimu tatkala orang lain tak melihatmu), demikin kata Ibn ‘Athā’illāh dalam al-×ikam.[2] Itu karena ikhlas sangat penting dan vital dalam amal dan “beramal”. Karena Allah memang tidak akan menerima amalan yang bercampur dengan syirik (baik kecil apalagi besar: shugrā atau kubrā).[3] Karena, menurut Ibn ‘Athā’illāh, ‘Istisyrāfuka an ya‘lama al-khalqu bikhushËshiyyatika dalÊlun ‘alā ‘adami shidqika fÊ ‘ubËdiyyatika’ (Keinginanmu agar orang-orang mengetahui keistimewaanmu adalah bukti dari ketidaktulusanmu dalam penghambaan).[4]

Mengingat pentingnya makna ikhlāÎ dan keikhlasan itu, perlu kiranya mengetahui petunjuk dan tuntunan Allah dalam kitab suci-Nya, Al-Qur’ān al-KarÊm. Dan berkenaan dengan ini, penulis tertarik untuk menelaah isi dan kandungan sËrah al-Ikhlāsh (surah keikhlasan/ketulusan) yang dianggap oleh Nabi Muhammad sejajar dengan seperti Al-Qur’ān. Kenapa sËrah ini disebut dengan al-IkhlāÎ? Apa rahasianya sehingga disejajarkan dengan sepertiga Al-Qur’ān? Dan keistimewaan apa saja yang dikandung oleh sËrah yang singkat ini? Apakah ada kaitannya dengan tema yang akan dibicarakan dalam tulisan ini?

Pertanyaan-pertanyaan di atas akan coba dijawab dalam tulisan yang sangat sederhana ini. Dengan harapan dapat menjadi renungan sederhana dan semoga menjadi ‘gizi’ iman dan amunisi ‘aqÊdah alam berinteraksi dengan Kalāmullāh yang mulia.

A. Kenapa disebut al-IkhlāÎ?

Pertanyaan di atas sangat penting dijawab, karena berkaitan erat dan kandungan ayat yang tidak menyinggung sedikitpun kata ikhlas. Lalu kenapa Qs. al-IkhlāÎ disebut demikian? Dan ikhlas itu sendiri apa maknanya?

Menurut al-Mu‘jam al-WasÊÏ, kata al-ikhlāsh asal katanya adalah khalasha-yakhlushu yang bermakna: bersih dan hilang kotorannya dan selamat.[5] Sementara kata al-ikhlāsh itu sendiri maknanya: TawÍÊd. Dan sËrah al-IkhlāÎ adalah qul huwa Allāhu AÍad.[6]

Nama bagi sËrah al-IkhlāÎ yang masyhur di zaman Nabi s.a.w. adalah sËrah Qul Huwa Allāh AÍad. Al-TirmidzÊ meriwayatkan dari AbË Hurairah, Imām AÍmad ibn ×anbal juga meriwayatkan dari Ibn Mas‘Ëd al-AnÎārÊ dan dari Ummu KultsËm binti ‘Uqbah bahwa Rasulullah s.a.w. menyatakan, “Qul Huwa Allāh ta‘dilu tsulutsa al-Qur’ān” (Qul Huwa Allāh menyamai 1/3 Al-Qur’ān).

Di sini tampak jelas penamaan sËrah tersebut diambil dari kalimat yang diucapkan oleh Rasulullah untuk menjadikan kata gantinya menjadi feminine gender (ta’nÊts al-ÌamÊr). Dimana kata ‘ta‘dilu’ menakwilkan satu maksud, yaitu al-sËrah (sËrah). Dan diriwayatkan pula oleh banyak sahabat bahwa tentang penamaan sËrah tersebut dengan Qul Huwa Allāh. Dan itulah nama yang wārid dalam Sunnah.[7]

Fakhr al-DÊn al-RāzÊ (544-604 H) menyebutkan bahwa selain disebut sËrah Qul Huwa Allāh AÍad, sËrah ini juga memiliki banyak nama, seperti: sËrah al-TafrÊd, sËrah al-TajrÊd, sËrah al-IkhlāÎ, sËrah al-Najāh, sËrah al-Wilāyah, sËrah al-Nisbah, sËrah al-Ma‘rifah, sËrah al-Jamāl, sËrah al-Muqasyqisyah, sËrah al-Mu‘awwidzah, sËrah al-Øamad, sËrah al-Asās, sËrah al-Māni‘ah, sËrah al-MuÍÌir, sËrah al-Munfirah, sËrah al-Barā’ah, sËrah al-Mudzakkirah, sËrah al-NËr, dan sËrah al-Amān.[8] Namun, memang, yang terkenal hingga dan masyhur hingga hari ini adalah sËrah al-IkhlāÎ.

Dan mengenai banyaknya nama untuk sËrah yang ringkas ini, al-RāzÊ beralasan bahwa: banyaknya gelar menunjukkan kelebihan keutamaan (mazÊd al-faÌÊlah) yang dimiliki dan dikandungnya.[9] Mungkin, hemat penulis, dapat kita samakan dengan seorang manusia. Dimana semakin banyak gelarnya, semakin membuktikan dirinya memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Begitu juga dengan sËrah Al-Qur’ān yang satu ini.

Disebut sËrah al-IkhlāÎ disebut demikian, karena tujuannya adalah: menjelaskan hakikat dzat yang maha kudus (al-dzāt al-aqdas) dengan cara menjelaskan bahwa Dia memiliki sifat puncak kesempurnaan (aqÎā al-kamāl) untuk menjelaskan kebenaran ‘aqÊdah untuk bersikap ikhlas dalam bertawÍÊd. Hal itu dilakukan dengan cara mengafirmasi kesempurnaan (itsbāt al-kamāl) dan menafikan segala bentuk kekurangan dan kekacauan. Yaitu TawÍÊd yang membuahkan kata-kata dan perbuatan yang manis dan baik. Dan kepada-Nya lah (lewat TawÍÊd) tempat berlindung dan bergantung dalam setiap kondisi.[10]

Ibn ‘ÓsyËr menambahkan bahwa disebut al-IkhlāÎ: karena ringkas dan komprehensif dalam mengumpulkan makna-makna sËrah tersebut. Karena di dalamnya terdapat satu bentuk pengajaran bagi manusia mengenai tata-cara mengikhlaskan ibadah untuk Allah. Yaitu: keselamatan keyakinan (i‘tiqād) dari mensyirikkan Allah dengan selain-Nya dalam al-ilāhiyyah(penyembahan dan pengabdian kepada-Nya sebagai al-Ilāh_red).[11]

Al-RāzÊ menambahkan bahwa sËrah al-IkhlāÎ disebut “al-IkhlāΔ karena di dalamnya hanya disebut sifat-sifat salbiyyah Allah, yaitu sifat-sifat keagungan (Îifāt al-jalāl). Karena siapa saja yang meyakininya, maka akan menjadi seorang yang ikhlas (mukhliÎ) dalam agama Allah. Dan siapa yang mati ketika mengamalkannya akan diselamatkan dari neraka…[12]

B. FaÌÊlah SËrah al-IkhlāÎ

Dalam ×adÊts yang diriwayatkan oleh seorang sahabat Rasulullah, AbË AyyËb, diterangkan bahwa Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian tidak sanggup untuk membaca 1/3 Al-Qur’ān setiap malam?” Rasulullah kemudian melanjutkan, “Siapa saja yang membaca ‘Allāh al-WāÍid al-Øamad’ dia telah membaca 1/3 Al-Qur’ān.”[13]

Dalam riwayat dari AbË Hurairah, beliau mengatakan, “Aku berjalan bersama Rasulullah, lalu beliau mendengar seseorang membaca: (Qul Huwa Allāh AÍad * Allāh al-Øamad) [al-IkhlāÎ: 1-2], lalu Rasulullah bersabda, “Wajib”! AbË Hurairah bertanya, “Apanya yang wajib wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “Wajib memperoleh surga.”[14]

Menegaskan hal di atas, Anas ibn Mālik menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiap membaca [Qul Huwa Allāh AÍad] dua ratus kali setiap hari, dosanya selama 50 tahun akan dihapuskan, kecuali jika dia memiliki hutang.”[15] Dan riwayat AbË Hurairah menyatakan bahwa Rasulullah bersabda, “Qul Huwa Allāh AÍad ta‘dilu tsulutsa Al-Qur’ān” (Qul Huwa Allāh AÍad menyamai 1/3 Al-Qur’ān).”[16]

Al-RāzÊ juga mencatat satu riwayat dari Anas ibn Mālik bahwa terdapat seorang laki-laki yang membaca (Qul Huwa Allāh AÍad) dalam setiap shalatnya. Kemudian Rasulullah bertanya kepadanya tentang hal itu. Dia menjawab, “Anā uÍibbuhā ya RasËlallāh” (Aku menyukainya Rasulullah).” Rasul s.a.w. kemudian menegaskan, “×ubbuka iyyāhā yudkhiluka al-jannah” (Cintamu terhadapnya memasukkanmu ke dalam surga). Dan disebutkan pula: “Siapa saja membacanya menjelang tidur, maka dia akan diberi kedalaman TawÍÊd, sedikit tanggungan, kuat dzikir dan doanya mustajāb.”[17]

Berkenaan dengan faÌÊlah sËrah al-IkhlāÎ itu, Imām al-BukhārÊ menyebut satu ×adÊts dari AbË al-Rijāl MuÍammad ibn ‘Abd al-RaÍmān, dari ibunya ‘Umrah binti ‘Abd al-RaÍmān –ketika itu dia sedang berada di kamar ‘Ó’isyah—dari ‘Ó’isyah bahwa Nabi MuÍammad s.a.w. mengutus seorang laki-laki dalam satu peperangan. Dan dalam shalat-shalatnya dia membaca Al-Qur’ān untuk para sahabatnya dan menutupnya dengan [Qul Huwa Allāh AÍad].

Ketika mereka kembali, mereka mengadukan hal itu kepada Rasulullah, kemudian Rasulullah berkata, “Tanyakan saja kepadanya, mengapa dia melakukan hal itu?” Ketika mereka menanyakannya, dia lalu menjawab, “Li’annahā Îifat al-RaÍmān, wa anā uÍibbu an aqra’ahā” (Karena sËrah merupakan sifat Allah yang Maha Pengasih, maka aku senang membacanya). Lalu Rasulullah berkata, “Kabarkan kepadanya bahwa Allah mencintainya.”[18]

Mungkin ada yang bertanya: Mengapa faÌÊlah sËrah al-IkhlāÎ sampai menyamai 1/3 Al-Qur’ān? Padahal sangat ringkas dan akhirnya pun memiliki kesamaan? Dalam hal ini, jawaban Jār Allāh al-ZamakhsyarÊ (467-538 H) dalam al-Kasysyāf-nya dapat menjadi pertimbangan kita. Menurutnya, disebut ta‘dilu tsulutsa Al-Qur’ān karena mengandung sifat-sifat Allah, keadilan-Nya dan tawÍÊd-Nya. Cukuplah sebagai bukti bahwa siapa yang mengakui keutamaannya dan membenarkan pernyataan Rasulullah tentang sËrah ini bahwa: ilmu TawÍÊd berasal dari Allah. Bagaimana tidak, karena satu ilmu itu mengikuti objeknya (al-‘ilm tābi‘un li al-ma‘lËm). Ilmu itu dimuliakan karena kemuliaan objeknya. Begitu juga, dia direndahkan karena kerendahan objek bahasannya. Dan objek ilmu TawÍÊd ini adalah Allah ta‘ālā berikut sifat-sifat-Nya; dan apa yang boleh dan apa-apa yang tidak boleh bagi-Nya.

Bagaimana menurut Anda mengenai kemuliaan kedudukannya dan keagungan bahasannya serta kelebihannya dibandingkan dengan ilmu yang lain. Orang yang menyepekan ilmu ini, karena kelemahannya dalam mengenal dan mengetahui objek bahasannya (Allah), minim pengagungan terhadap-Nya, tidak merasa takut kepada-Nya dan tidak memiliki pandangan ke depan mengenai akhir dari semua kehidupannya.[19]

Mengenai hal di atas, Ibn Juzay (w. 751 H) memiliki pendapat yang sangat menarik untuk disimak. Dia mencatat bahwa ÍadÊts Rasulullah s.a.w. yang menyatakan ‘Qul Huwa Allāh AÍad ta‘dil Tsulutsa al-Qur’ān’ diperdebatkan maksudnya. Disebutkan bahwa maksudnya adalah dalam hal ganjaran (al-tsawāb). Dimana yang membacanya ganjarannya seperti telah membaca 1/3 Al-Qur’ān.

Namun ada juga pendapat yang menyatakan bahwa hal itu berkenaan dengan kandungan sËrah tersebut, yaitu: makna-makna (al-ma‘ā) dan ilmu-ilmu (al-‘ulËm). Karena ilmu-ilmu Al-Qur’ān pilarnya tiga: TawÍÊd, hukum-hukum dan kisah-kisah. Dan sËrah ini mencakup TawÍÊd, yang mencakup 1/3 Al-Qur’ān. Ini lebihjelas dan mudah untuk dipahami. Oleh karenanya, ÍadÊts tersebut dijadikan penguat pendapat ini oleh Ibn ‘AÏiyyah.[20]

Sejatinya, hemat penulis, ×adÊts-ÍadÊts dan riwayat-riwayat mengenai keutamaan (faÌā’il) sËrah al-IkhlāÎ mengajak kita untuk lebih intens berinteraksi dengan sËrah keikhlasan ini. Agar kita lebih mengerti dan memahami bahwa Allah telah menyediakan satu sËrah yang begitu agung, untuk kita baca, kita tadabburi, dan kita amalkan. Karena di dalamnya terkadung berbagai keutamaan dan manfaat agung bagi kita, khususnya mengenai keagungan Allah agar kita jangan terjebak dalam kesyirikan.

C. Sebab Turunnya SËrah al-IkhlāÎ

Untuk lebih memahami rahasia nama al-IkhlāÎ di atas, perlu kiranya dipaparkan sebab turunnya sËrah di atas. Menurut riwayat dari ‘Ikrimah, dijelaskan bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai MuÍammad, coba jelaskan kepada kami bagaimana sebenarnya Tuhanmu! Apa sebenarnya Tuhanmu itu? Dia terbentuk dari apa? Lalu Allah menurunkan ‘Qul huwa Allāhu AÍad’, sampai akhir sËrah. Begitu juga menurut riwayat dari Jābir.[21]

Sebab turunnya sËrah al-IkhlāÎ di atas secara detil dan komprehensif dipaparkan oleh Imām al-SuyËÏÊ (w. 849 H/911 M) dalam al-Durr al-MantsËr. Dimana Imām AÍmad ibn ×anbal, al-BukhārÊ di dalam al-TārÊkh, al-TirmidzÊ, Ibn JarÊr, Ibn Khuzaimah, Ibn AbÊ ‘ÓÎim dalam al-Sunnah, al-BaghawÊ di dalam al-Mu‘jam-nya, Ibn Mundzir, al-×ākim dalam al-Kunā, AbË al-Syaikh dalam al-‘AÐamah, dan al-×akim (ÍadÊts ini di-saÍÊÍ-kan olehanya), dan al-BaihaqÊ dalam al-Asmā’ wa al-Øifāt, dari Ubay ibn Ka‘b bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Nabi s.a.w., “Wahai MuÍammad, coba jelaskan kepada kami bagaimana “nasab” Tuhanmu.” Lalu Allah menurunkan {Qul Huwa Allāh AÍad-Allāh al-Øamad-Lam Yalid wa Lam YËlad}.

Alasannya: karena tidak ada sesuatu pun yang dilahirkan melainkan akan mati. Dan tidak ada sesuatu pun yang mati melainkan akan diwariskan. Sementara Allah tidak mati dan tidak diwariskan. {Wa Lam yakun LahË Kufuwan AÍad}: tidak ada yang menyerupai dan menyamai-Nya. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.[22]

Penjelasan yang lebih rinci mengenai berbagai pendapat mengenai sabab al-nuzËl sËrah al-IkhlāÎ di temukan dalam uraian al-ÙabarÊ, dimana beliau telah mengklasifikasikannya sebagai berikut:

a. al-IkhlāÎ Turun Sebagai Jawaban terhadap Orang Musyrik

Pendapat ini dianut oleh: Ubay ibn Ka‘b, ‘Ikrimah, AbË al-‘Óliyah, dan Jābir ibn ‘Abd Allāh.[23] Ibn KatsÊr menambahkan Ibn Mas‘Ëd.[24]

b. Al-IkhlāÎ Turun Sebagai Jawaban terhadap Yahudi

Pendapat ini dianut oleh: Sa‘Êd ibn Jubair dan Qatādah.[25]

c. Al-IkhlāÎ Turun sebagai Jawaban terhadap Rabbi Yahudi

Pendapat ketiga ini penulis kutip dari Ibn al-JauzÊ (508-597 H) dalam Zād al-MasÊr. Dia mencatat bahwa segolongan rabbi Yahudi mendatangi Rasulullah dan bertanya, “Tuhanmu dari jenis apa? Dari siapa dunia ini diwariskan? Siapa yang mewariskannya?” Kemudian turunlah sËrah tersebut. Pendapat ini dipegang oleh Qatādah dan al-ÖaÍÍāk.[26] Namun al-BaghawÊ menambahkan Muqātil.[27]

Sayangnya, al-ÙabarÊ tidak melakukan tarjÊÍ terhadap dua pandangan yang berbeda ini. Begitu juga dengan beberapa para mufassir yang setelahnya. Namun, hemat penulis, ini dapat dilihat dari klasifikasi sËrah ini: Makkiyah atau Madaniyyah. Yang menyatakan Makkiyyah adalah: Ibn Mas‘Ëd, al-×asan al-BaÎrÊ, ‘AÏā’, ‘Ikrimah dan Jābir. Sementara yang mengatakan Madaniyyah adalah dinisbatkan kepada Ibn ‘Abbās, Qatādah dan al-ÖaÍÍāk.[28] Ibn ‘ÓsyËr menambahkan untuk pendukung pendapat ini: al-SuddÊ, AbË al-‘Óliyah, dan al-QurÐÊ.

Oleh karena itu, Ibn ‘ÓsyËr menyatakan bahwa mayoritas ulamā[29] menyatakan bahwa sËrah al-IkhlāÎ adalah “Makkiyyah”. Perbedaan pendapat ini disebabkan dua riwayat yang berbeda tentang sabab al-nuzËl-nya:

a. Al-TirmidzÊ meriwayatkan dari Ubay ibn Ka‘b, dari ‘Ubayd al-‘AÏÏār dari Ibn Mas‘Ëd, dan AbË Ya‘lā dari Jābir ibn ‘Abd Allāh bahwa orang-orang Quraisy mendatangi Rasulullah dan berkata, “Coba terangkan kepada kami nasab Tuhanmu!” maka turunlah ‘Qul Huwa Allāh AÍad’ hingga akhir. Maka, ini menandakan bahwa dia Makkiyyah.

b. AbË ØāliÍ meriwayatkan dari Ibn ‘Abbās bahwa ‘Ómir ibn al-Ùufail dan Arbad ibn RabÊ‘ah (keduanya adik Lubaid) mendatangi Rasulullah, lalu ‘Ómir bertanya, “Engkau menyeru kami kepada apa?” Rasul menjawab, “Kepada Allah!” Dia kemudian berkata, “Coba terangkan kepada kami, apakah Dia terbuat dari emas, atau dari perak, dari besi, atau dari kayu?” (Pertanyaannya itu menandakkan kebodohannya. Karena dia mengira bahwa Allah seperti patung/berhala mereka, yang terbuat dari barang tambang, kayu atau batu). Maka turunlah sËrah tersebut. Maka, dia adalah Madaniyyah. Karena mereka tidak mendatangi Rasul s.a.w. kecuali setelah Hijrah.

Dan menurut al-WāÍidÊ, beberapa pendeta Yahudi (diantaranya ×uyai ibn AkhÏab dan Ka‘b ibn al-Asyraf) berkata kepada Nabi s.a.w., “Terangkan kepada kami tentang Tuhanmu, kiranya kami akan beriman kepadamu.” Maka turunlah sËrat tersebut. Namun, menurut Ibn ‘ÓsyËr, yang benar adalah Makkiyyah. Karena sËrah al-IkhlāÎ mencakup dasar-dasar TawÍÊd. Dan masalah TawÍÊd mayoritas turun di Makkah.[30]

Sejatinya, ada dua poin penting lagi yang berkaitan dengan sËrah al-IkhlāÎ ini, yaitu: TafsÊr Kosa Kata dan Sufistikasi Kata al-IkhlāÎ. Namun, mengingat keterbatasan waktu, dua poin ini tidak dapat penulis tuntaskan. Insyā Allāh, pada kesempatan yang akan datang kedua poin ini dapat disempurnakan. Semoga bermanfaat. [Q].



[1] Disampaikan dalam Kajian Jum’at pagi, di Masjid Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan, para hari Jum’at, 28 Ramadhān 1430 H/18 September 2009.

[2] Ibn ‘Athā’illāh, al-Hikam, Disertai Ulasan Syeikh Fadhlalla, terjemah: Lisma Dyawati Fuaida, (Jakarta: Serambi, 1429 H/2008 M), hlm. 160.

[3] Secara tegas Allah menyatakan, “Barangsiapa yang berharap ingin bertemu dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh. Dan (dalam amal salehnya itu) hendaklah ia tidak menyekutukan-Nya dengan seorang pun.” (Qs. Al-Kahfi [18]: 110).

[4] Al-Hikam, hlm. 161.

[5] Mujamma‘ al-Lughah al-‘Arabiyyah, al-Mu‘jam al-WasÊth, (Cairo: Maktabah al-SyurËq al-Dawliyyah, 1425 H/2004 M), hlm. 249.

[6] Ibid.

[7] Syeikh MuÍammad al-Ùāhir ibn ‘ÓsyËr, TafsÊr al-TaÍrÊr wa al-TanwÊr, (Tunisia: al-Dār al-TËnisiyyah li al-Nasyr, 1984), 30: 609.

[8] MuÍammad al-RāzÊ Fakhr al-DÊn ibn al-‘Allāmah Öiyā’ al-DÊn ‘Umar (yang dikenal dengan KhaÏÊb al-Rayy), al-TafsÊr al-KabÊr wa MafātÊÍ al-Ghayb, (Beirut-Lebanon: Dār al-Fikr, 1401 H/1981 M), 32: 175. Lihat juga, Burhān al-DÊn AbË al-×asan IbrāhÊm ibn ‘Umar al-Biqā‘Ê (w. 885 H/1480 M), NaÐm al-Durar fÊ Tanāsub al-Óyāt wa al-Suwar, (Cairo: Dār al-Kitāb al-IslāmÊ, ttp), 22: 344.

[9] Al-RāzÊ, al-TafsÊr al-KabÊr, 32: 175.

[10] Al-Biqā‘Ê, NaÐm al-Durar, 22: 344.

[11] Ibn ‘ÓsyËr, TafsÊr al-TaÍrÊr wa al-TanwÊr, op.cit., 30: 609. Dan sËrah ini disebut sËrah al-TawÍÊd, karena menegaskan bahwa Allah itu Esa (WāÍid). Dan disebut al-Asās, karena mengadung tawÍÊd Allāh yang merupakan dasar Islam (asās al-Islām). [ibid., 30: 609]. Karena makna al-Ilāh dalam kajian ilmu TawÍÊd dimaknai dengan al-ma‘bËd (yang disembah, yang diibadahi). Kajian dan pembahasan tentang tema-tema TawÍÊd dapat disimak dalam beberapa karya ulamā’ kita –baik klasik maupun modern—, seperti: (1) Imām AbË ManÎËr al-MāturidÊ al-SamarqandÊ (w. 333-944 H), Kitāb al-TawÍÊd, taÍqÊq: Prof. Dr. Bekir Topaloğlu dan Dr. Muhammed Aruçi, (Beirut: Dar Øader/İstanbËl: IrÎhad Kitap Yayin Dağitim, t.t.p), (2) AbË MuÍammad ‘Abd al-GhanÊ ibn ‘Abd al-WāÍid al-MaqdisÊ (w. 600 H), Kitāb al-TawÍÊd li Allāh ‘Azza wa Jalla, taÍqÊq dan takhrÊj: MuΑab ibn ‘AÏā Allāh al-×āyik, (RiyāÌ: Dār al-Muslim li al-Øaff wa al-Ikhrāj al-FannÊ, 1419 H/1998 M), (3) al-‘Ólim al-‘Allāmah Walad ‘Adlān, Jāmi‘ Zabad al-‘Aqā’id al-TawÍÊdiyyah fÊ Ma‘rifat al-Dzāt al-MawÎËf bi al-Øifāt al-‘Aliyyah, (Cairo: Syarikah Maktabah wa MaÏba‘ah MuÎÏafā al-BābÊ al-×alabÊ wa Awlāduh, cet. II, 1367 H/1948 M), (4) MuÍammad ‘Abduh, Risālah al-TawÍÊd, (Cairo: Dār al-NaÎr li al-Ùibā‘ah, 1969), (5) AÍmad Bahjat, Allāh fÊ al-‘AqÊdah al-Islāmiyyah: Risālah JadÊdah fÊ al-TawÍÊd, (Cairo: Markaz al-Ahram li al-Tarjamah wa al-Nasyr, cet. III, 1406 H/1986 M), dan (6) Dr. Abu Ameenah Bilal Philips, The Fundamentals of TawÍeed (Islamic Monotheism), (Riyādh-Saudi Arabia: International Islamic Publishing House (IIPH), 2005).

[12] al-RāzÊ, al-TafsÊr al-KabÊr wa MafātÊÍ al-Ghayb, op.cit., 32: 175.

[13] AbË ‘Ôsā MuÍammad ibn ibn ‘Ôsā al-TirmidzÊ (w. 279 H), kompilasi, takhrÊj dan komentar: Dr. Basysyār ‘Awwā Ma‘rË, al-Jāmi‘ al-KabÊr, (: Dār al-Gharb al-IslāmÊ, 1996), 5: 21.

[14] Ibid., 5: 22.

[15] Ibid., 5: 23.

[16] Ibid., 5: 24.

[17] al-RāzÊ, op.cit., 32: 174-175.

[18] Ibn KatsÊr, TafsÊr al-Qur’ān al-‘AÐÊm, 14: 501.

[19] Jār Allāh AbË al-Qāsim MaÍmËd ibn ‘Umar al-ZamakhsyarÊ, al-Kasysyāf ‘an ×aqā’iq GhawāmiÌ al-TanzÊl wa ‘UyË al-AqāwÊl fÊ WujËh al-Ta’wÊl, taÍqÊq, komentar dan studi: Syeikh ‘Ódil AÍmad ‘Abd al-MawjËd, Syeikh MuÍammad Mu‘awwaÌ dan Prof. Dr. FatÍÊ ‘Abd al-RaÍmān AÍmad ×ijāzÊ, (RiyāÌ-Saudi Arabia: Maktabah al-‘Obeikan, 1417 H/1998 M), 6: 462. Dan untuk menguatkan faÌÊlah sËrah al-IkhlāÎ hingga disebut sebagai al-Asās, al-ZamakhsyarÊ menyatakan bahwa sebabnya, karena sËrah ini mencakup dasar-dasar agama (uÎËl al-dÊn). Kemudian al-ZamakhsyarÊ mengutip satu ÍadÊts lewat jalur Anas ibn Mālik bahwa Nabi MuÍammad s.a.w. menyatakan, “Langit dan bumi yang (masing-masing) tujuh lapis dibangun di atas ‘Qul Huwa Allāh AÍad’. Artinya, langit dan bumi diciptakan untuk menjadi bukti pengesaan Allah dan mengetahui sifat-sifat-Nya yang dibicarakan oleh sËrah ini. Dari Rasulullah s.a.w., bahwa beliau mendengar seorang laki-laki membaca ‘Qul Huwa Allāh AÍad’, lalu beliau berkata, “Wajib!” Lalu beliau ditanya, “Wajib apa wahai Rasulullah?” “Wajib mendapatkan surge,” jawab beliau ringkas. [ibid., 6: 462). Lihat juga, Ibn ‘ÓsyËr, TafsÊr al-TaÍrÊr wa al-TanwÊr, 30: 610.

[20] Lihat lebih detil, AbË al-Qāsim MuÍammad ibn AÍmad ibn Juzay al-KalbÊ, al-TashÊl li ‘UlËm al-TanzÊl, taÍqÊq: taÎÍÊÍ dan takhrÊj ayat: MuÍammad Sālim Hāsyim, (Beirut-Lebanon: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1415 H/1995 M), 2: 624-625.

[21] Lihat, AbË Ja‘far MuÍammad ibn JarÊr al-ÙabarÊ (224-310 H), Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wÊl Óy al-Qur’ān, taÍqÊq: Dr. ‘Abd Allāh ibn ‘Abd al-MuÍsin al-TurkÊ, (Cairo: Dār Hajr, 1422 H/2001 M), 24: 728. Sementara itu, Ibn KatsÊr, mengutip Imām AÍmad ibn ×anbal dalam al-Musnad menyebutkan satu riwayat tentang sabab al-nuzËl ayat tersebut dari jalur Ubay ibn Ka‘b. Lihat, ‘Imād al-DÊn AbË al-Fidā’ Ismā‘Êl ibn KatsÊr al-DimasyqÊ (w. 774 H), TafsÊr al-Qur’ān al-‘AÐÊm, taÍqÊq: MuÎÏafā al-Sayyid MuÍammad, MuÍammad al-Sayyid Rasyād, MuÍammad FaÌl al-‘AjamāwÊ, ‘AlÊ AÍmad ‘Abd al-BāqÊ dan ×asan ‘Abbās QuÏb, (GÊzah-Mesir: Mu’assasah QarÏabah & Maktabah Awlād al-Syaikh li al-Turāts, 1421 H/2001), 14: 500.

[22] Jalāl al-DÊn al-SuyËÏÊ, al-Durr al-MantsËr fÊ al-TafsÊr bi al-Ma’tsËr, taÍqÊq: Dr. ‘Abd Allāh ibn ‘Abd al-MuÍsin al-TurkÊ, (Mohandesen-Mesir: Dār Hagar, 1424 H/2003 M), 15: 740.

[23] Al-ÙabarÊ, Jāmi‘ al-Bayān, op.cit., 24: 727-728.

[24] Ibn KatsÊr, TafsÊr al-Qur’ān al-‘AÐÊm, op.cit., 14: 501.

[25] Al-TabarÊ, 24: 728-729.

[26] Lihat lebih lanjut, AbË al-Faraj Jamāl al-DÊn ‘Abd al-RaÍmān ‘AlÊ ibn MuÍammad al-JauzÊ al-QurasyÊ al-BaghdādÊ, Zād al-MasÊr fÊ ‘Ilm al-TafsÊr, (Beirut-Damascus: al-Maktab al-IslāmÊ, 1404 H/1984 M), 9: 265-266.

[27] AbË MuÍammad al-×usain ibn Mas‘Ëd al-BaghawÊ, Ma‘ālim al-TanzÊl, taÍqÊq: MuÍammad ‘Abd Allāh al-Namir, ‘Utsmān Jumu‘ah ÖamÊriyyah dan Sulaimān Muslim al-×arasy, (Riyādh: Dār Ùayibah li al-Nasyr wa al-TawzÊ‘, 1409 H), 8: 587.

[28] Ibn al-JauzÊ, Zād al-MasÊr, op.cit., 9: 265. Lihat juga, AbË ‘Abd Allāh MuÍammad ibn AÍmad ibn AbÊ Bakr al-QurÏubÊ (w. 671 H), al-Jāmi‘m li AÍkām al-Qur’ān wa al-Mubayyin limā TaÌammanahË min al-Sunnah wa Óy al-Furqān, taÍqÊq: Dr. ‘Abd Allāh ibn ‘Abd al-MuÍsin al-TurkÊ, (Beirut-Lebanon: Mu’assasah al-Risālah, 1427 H/2006), 24: 557.

[29] Penulis telah mengecek beberapa mufassir yang menyatakan bahwa sËrah al-IkhlāÎ adalah Makkiyah, seperti: al-RāzÊ, Ibn KatsÊr, AbË ×āyyān al-AndalusÊ, al-ZamakhsyarÊ, dan al-SuyËÏÊ.

[30] Ibn ‘ÓsyËr, TafsÊr al-TaÍÊr wa al-TanwÊr, op.cit., 30: 611.

0 komentar:

Poskan Komentar