Jumat, 30 Oktober 2009

AL-QUR'AN (1)

LEBIH DEKAT DENGAN UMM AL-QUR’ĀN@:

Upaya Menelaah Nama dan Fadhīlahnya

يا غلام : العمل بالقـــرآن يوقفك علـــى منزلـــه,

والعمل بالسنة يوقفك علـــى الرسول نبينا محمد صلى الله عليه وسلم

(عبـــد القادر الجيـــلانـــى, المتوفى سنة 561 هـ\1167 م)[1]

Al-Qur’ān bukanlah suatu himpunan kata,

bukan sesuatu yang dapat dilihat, didengar,

atau diungkapkan dengan kata-kata.

Ia diberi bentuk yang mudah,

hingga kita yang tak dapat mendengar dan tak dapat melihatnya,

dapat mengambil manfaat darinya

~Imam Khomeini[2]

Fātihah

Al-Qur’ān adalah sebuah “biografi”, demikian kata Bruce Lawrence.[3] Artinya, Al-Qur’ān selalu tampil membawa dirinya sebagai bentuk miniatur manusia. Oleh karena itu, Al-Qur’ān harus ‘dibedah’, agar biografinya benar-benar dapat diungkap dengan baik dan benar.

Tulisan ini sejatinya, mencoba untuk mendekati satu sūrah Al-Qur’ān, yaitu sūrah al-Fātihah. Dengan tujuan : untuk mengenal lebih dekat dan lebih intim. Karena al-Fā tihah merupakan sūrah teragung dalam Al-Qur’ān, maka perlu kiranya ‘diajak musyawarah’ lebih intim. Untuk sampai pada tujuan itu, penulis mencoba untuk mendekati sūrah yang agung ini lewat dua stressing point: pertama, menelaah nama-nama, dan kedua, mengungkap fadhīlah (keutamaan) yang dikandungnya. Sebenarnya, mengungkap al-Fātihah harus dilakukan lewat tafsīr. Namun, karena satu dan lain hal, poin ini belum dapat disajikan.

I. Nama-nama Sūrah al-Fātihah

Nama sūrah ini yang paling masyhur adalah al-Fātihah. Jumhur ‘ulamā’ menyebutnya Umm al-Kitāb. Nama ini tidak disukai oleh Anas ibn Mālik, Hasan Bashrī dan ‘Abdullāh ibn Sīrīn. Hasan Bashrī dan Ibnu Sīrīn menyatakan: إنما ذلك اللوح المحفوظ (‘Umm al-Kitāb adalah sebutan untuk Lauh Mahfūzh’). Hasan Bashrī juga menyatakan: الآيات المحكمات هن أم الكتاب (‘Ayat-ayat muhkamāt –bukan ayat-ayat mutasyābihāt—itulah Umm al-Kitāb’). Oleh karena itu, dia tidak suka jika sūrah al-Fātihah disebut sebagai Umm al-Qur’ān.

Dalam riwayat yang sahīh menurut al-Tirmidzī, dari Abū Hurairah bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:

الحمد لله رب العالمين أم القـــرآن, وأم الكتاب, والسبع المثانـــى, والقـــرآن العظيم (رواه البخارى) (‘al-Hamdu lillāhirabbil’ ‘Ālamīn adalah Umm al-Qur’ān, Umm al-Kitāb, al-Sab’u al-Matsānī dan Al-Qur’ān yang Agung’).[4] Ibnu al-Jauzī (508-597) dalam Zād al-Masīr juga menyebutkan satu riwayat dari Abū Hurairah bahwa ketika itu Ubay ibn Ka’b sedang membaca Al-Qur’ān untuk beliau, dimana Ka’b membaca Umm al-Qur’ān, lalu Nabi s.a.w. menyatakan:

والذى نفسى بيده, ما أنزل فى التوراة, ولا فى الإنجيل, ولا فى الزبور, ولا فى الفرقان مثلها, هى السبع المثانى والقرآن العظيم الذى أوتيته (رواه أحمد والترمـــذى, وقال : حديث حسن صحيح).[5]

Sūrah ini juga disebut sebagai al-Hamd (Pujian) dan al-Shalāh (Salat). Hal ini berdasarkan pada hadīts Nabi s.a.w.:

قسمت الصلاة بينى وبين عبـــدى, فإذا قال العبد : الحمد لله رب العالمين قال الله : حمدنى عبدى (حديث صحيح, (رواه مسلم).

Dinamakan sūrah al-Fātihah dengan al-shalāh, karena membacanya menjadi “syarat” sahnya shalat. Sūrah ini dinamakan dengan al-Syifā’ (Penawar), berdasarkan satu hadīts yang diriwayatkan oleh al-Dārimī dari Abū Sa’īd al-Khudrī secara marfū’ : فاتحـــة الكتاب شفاء من كل سم

Dia juga dinamakan dengan al-Ruqyah, berdasarkan hadīts sahīh dari Abū Sa’īd al-Khudrī ketika meruqyah seorang laki-laki yang diselamatkannya. Mendengar hal itu, Nabi s.a.w. berkata kepadanya :

وما يدريك أنها رقية (أخرجه البخارى) (‘Kok kamu tahu kalau al-Fātihah itu bisa untuk ruqyah?’)

Al-Sya’bī meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbās bahwa beliau –Ibnu ‘Abbās—menamakan al-Fātihah dengan Asās al-Qur’ān, dan fondasinya adalah Bismillāhirrahmānirrahīm. Sementara Sufyān ibn ‘Uyainah menyebutnya al-Wāqiyah (Penangkal) dan Yahya ibn Abī Katsīr menamakannya al-Kāfiyah (Penyukup), karena dia tidak butuh kepada yang lainnya. Sebagaimana hal itu ditegaskan dalam beberapa hadīts mursal, seperti :

أم القرآن عوض من غيرها, وليس غيرها عوض منها (أخرجه الدارقطنى و الحاكم).[6]

Dalam Nazhm al-Durar, al-Biqā’ī (w. 885 H/1480 M) mengoleksi nama-nama al-Fātihah yang lain, seperti : al-Kanz, al-Wāfiyah, al-Hamd, al-Syukr, dan al-Du’ā’. Kemudian dia menjelaskan makna-makna yang ada di balik nama-nama tersebut. Dia adalah:

1. Induk segala bentuk kebaikan;

2. Dasar segala hal baik (ma’rūf);

3. Tidak dapat dihitung jika tidak diulang-ulang (maka disebut matsānī_red);

4. Dia adalah harta karun dari segala sesuatu;

5. Penawar segala penyakit;

6. Mencukupi segala obsesi (hamm);

7. Memenuhi segala yang dikehendaki;

8. Penangkal dari segala jenis kejahatan;

9. Ruqyah untuk segala yang menyakitkan;

10. Pengukuh pujian kepada Allah (yakni : sifat meliputi dengan sifat-sifat kesempurnaan);

11. Syukur, sebagai bentuk aksi pengagungan sang pemberi nikmat (Allah);

12. Doa, dengan memanjatkan permintaan kepada yang diseur, Allah;

13. Dan pengumpul tersebut untuk semua itu adalah shalat.[7]

Menurut al-Baghawī (w. 516 H) dalam Ma’ālim al-Tanzīl, al-Fātihah dinamakan Fātihah al-Kitāb, karena Allah membuka Al-Qur’ān. Dia juga disebut Umma l-Qur’ān dan Umm al-Kitāb, karena dia merupakan dasar Al-Qur’ān (ashl al-Qur’ān), dimana Al-Qur’ān dimulai darinya. Dan induk dari sesuatu artinya : asalnya. Sebagai contoh, kota Makkah disebut Umm al-Qurā (Ibu Negeri-negeri), karena dia merupakan asal negeri-negeri yang ada.

Disebutkan pula, bahwa dinamakan demikian karena letak al-Fātihah di depan dan sebagai ‘imam’ bagi sūrah-sūrah setelahnya. Al-Qur’ān dimulai penulisannya dengan al-Fātihah, dan pertama kali dibaca dalam shalat adalah al-Fātihah. Dia disebut al-Sab’u al-Matsānī karena jumlahnya tujuh ayat menurut kesepakatan ‘ulamā’. Disebut al-Matsānī karena diulang-ulang dalam shalat, maka dia dibaca dalam setiap rakaat shalat. Menurut Mujāhid, disebut matsānī, karena dia dikecualikan (ditabung) oleh Allah untuk umat Islam. Dan menurut pendapat mayoritas, sūrah ini adalah Makkiyah.[8]

II. Fadhīlah sūrah al-Fātihah

Sūrah al-Fātihah merupakan sūrah teragung dalam Al-Qur’ān. Untuk itu, penulis ingin mengutip pendapat al-marhūm H. Bey Arifin dalam Samudera Al-Fatihah, bahwa al-Fātihah itu:

1. Sūrah Paling Besar (A’zham):

Diriwayatkan oleh Imām Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal, katanya: “Yahya ibn Sa’īd menyampaikan kepada kami dari Syu’bah, yang menerima kabar tersebut dari Hubaib ibn ‘Abd al-Rahmān, dari Hāfizh ibn ‘Āshim, dari Abū Sa’īd al-Ma’allī, dia berkata:

كنت أصلى, فدعانى رسول الله (ص) فلم أجبه حتى صليت قال فأتيته فقال : ما منعك أن تأتينى؟ قال : قلت يا رسول الله, إنى كنت أصلى. قال : ألم يقل الله تعالى : (ياايها الذين آمنوا استجيبوا لله وللرسول إذا دعاكم لما يحييكم) ثم قال : لأعلمنك أعظم سورة فى القـــرآن قبل أن تخرج من المسجـــد. قال : فأخـــذ بيدى فلما أراد أن يخرج من المسجد قلت يا رسول الله إنك قلت لأعلمنك أعظم سورة فى القرآن. قال : نعم, الحمد لله رب العالمين, هى السبع المثانى والقرآن العظيم أوتيته (رواه البخارى و أبو داود و النسائى و ابن ماجـــه و الواقـــدى).

2. Tidak ada Duanya dalam Taurāt, Injīl, Zabūr dan Al-Qur’ān

Diriwayatkan oleh Imām Mālik ibn Anas dalam al-Muwattha’, dari ‘Alā ibn ‘Abd al-Rahmān ibn Ya’qūb al-Haraqī, bahwa Abū Sa’īd mawlā Ibnu ‘Āmir ibn Kuraiz mengabarkan kepada mereka, bahwa Rasulullah memanggil Ubay ibn Ka’b ketika dia shalat dalam masjid. Sesudah selesai shalat, Ubay mendatangi Rasulullah, lalu Rasulullah memegang tangan Ubay, lalu bersama-sama keluar masjid dan berkata : “Aku ingin engkau tidak keluar dari masjid ini sebelum mengetahui satu sūrah yang tak pernah diturunkan dalam Taurāt, tidak pula dalam Injīl dan tidak pula dalam Al-Qur’ān yang dapat menyamainya. Ubay lalu berkata : ‘Aku memperlambat jalanku, lalu berkata kepada Rasulullah : Sūrah apakah yang engkau janjikan tadi ya Rasulullah? Lalu beliau membaca : ‘Al-Hamdu lillāhi Rabbil ‘Ālamīn’ dan seterusnya. Dia berkata : “Inilah sūrah tersebut. Terdiri dari tujuh ayat yang berulang-ulang dan dialah Al-Qur’ān al-‘Azhīm, yang telah diberikan kepadaku.”

Diriwayatkan ‘Alī ibn Abī Thālib, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabada:

من قرأ فاتحة الكتاب فكأنما قرأ التوراة والإنجيل والزبور والفرقان

3. Hanya kepada nabi Muhammad Diturunkan

Diriwayatkan oleh Muslim dan al-Nasa’ī dari hadīts Abū al-Ahwash, Salām ibn Sālim dari ‘Ammār ibn Zuraiq, dari ‘Abd Allāh ibn ‘Īsā ibn ‘Abd al-Rahmān ibn Abū Laila dari Sa’īd ibn Jubair, dari Ibnu ‘Abbās, dia berkata:

بين رسول الله (ص) وعنده جبرائيل إذ سمع نقيضا فوقه فرفع جبرائيل بصره إلى السماء فقال : هذا باب قد فتح من السماء ما فتح قط فنزل منه ملك فأتى النبى (ص) فقال : أبشر بنورين قد أوتيتهما لم يؤتهما نبى قبلك فاتحة الكتاب وخواتيم سورة البقرة لم تقرأ حرفا منها إلا أوتيتهه.

4. Langsung Mendapat Jawaban dari Allah

Siapa yang membaca sūrah al-Fātihah, setiap ayat yang dibaca itu langsung dijawab oleh Allah. Diriwayatkan oleh Imām Muslim dari Abū Hurairah ra., dia berkata:

إنا نكون خلف الإمام فقال : إقرأ بها فى نفسك فإنى سمعت رسول الله (ص) يقول : قال الله عز وجل : قسم الصلاة بينى وبين عبدى نصفين ولعبدى ما سأل, فإذا قال الحمد لله رب العالمين, قال الله حمدنى عبدى. وإذا قال الرحمن الرحيم, قال الله أثر على عبدى. وقال مرة فوض إلى عبدى. فإذا قال إياك نعبد وإياك نستعين, قال الله هذا بينى وبين عبدى ولعبدى ما سأل. وإذا قال اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين, قال الله هذا لعبدى ولعبدى ما سأل.

5. Aman dari Segala Bahaya

Diriwayatkan oleh al-Bazzār dari Anas ra. bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:

وإذا قرأت فاتحة الكتاب وقل هو الله أحـــد فأمنت من كل شئ إلا الموت

6. Langsung dari ‘Arsy

Diriwayatkan oleh al-Hākim di dalam al-Mustadrak dari Ma’qal ibn Yasār, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Amalkan segala apa yang tersebut di dalam Al-Qur’ān. Halalkanlah apa yang dihalalkannya, dan haramkanlah apa yang diharamkannya. Dan patuhilah ia. Jangan sekali-kali engkau ingkari apa-apa yang tersebut di dalamnya, dan apa-apa yang kamu ragukan (maksudnya). Kembalikanlah kepada Allah dan orang-orang yang mempunyai pengetahuan sesudah meninggal aku nanti. Supaya diterangkannya kepada kalian dan berimanlah kalian kepada Taurāt, Injīl dan Zabūr, dan apa saja yang dibawa oleh para nabi dari Tuhan mereka. dan akan memberikan kelapangan kepada kalian Al-Qur’ān dan segala keterangan tersebut di dalamnya. Maka, sesungguhnya Al-Qur’ān itu Pemberi Syafa’at, sesuatu yang tak pandan bercakap tetapi membawa kebenaran. Dan kepadaku diberikan (oleh Allah) sūrah al-Baqarah dari zikir pertama (kitab-kitab suci yang diturunkan sebelum Mūsā) dan diberikan kepadaku sūrah yang berawalan Thāhā, Thāsīn, dan Hāmīm dari papan-papan Mūsā (maksudnya: Taurāt) dan diberikan kepadaku sūrah al-Fātihah langsung dari ‘Arsy.”

7. Sebagai Obat (Ruqyah)

Diriwayatkan oleh al-Bukhārī dari Abū Sa’īd al-Khudrī, dia berkata:

كنا فى مســـير لنا فنزلنا فجاءت جارية فقالت : إن سيد الحى سليم وإن نفر غيب فهل منكم راق؟ فقام معها رجل ما كنا نأبنه برقية فرقاه فبرأ فأمر له بثلاثين شاة وسقانا لبنا. فلما رجع قلناله أكنت تحسن رقية أو كنت ترقى؟ قال : لا, مارقيت إلا بأم الكتاب. قلنا لا تحدثوا شيئا نأتى ونسأل رسول الله (ص). فلما قدمنا المـــدينة ذكرناه النبي (ص), فقال : وما كان يدريه أنها رقية اقسموا واضربوا لى بسهم.[9]

Selain itu, menurut ‘Abduh, al-Fātihah memiliki lima (5) prinsip Al-Qur’ān:

Pertama, tawhīd. Prinsip ini diturunkan karena semua manusia memiliki potensi menyembah berhala, meskipun ada juga yang mengaku bertawhīd.

Kedua, janji dan kabar gembira bagi orang yang bertawhīd, bahwa ia akan diganjar dan diancam, serta peringatan bagi orang yang tidak mau bertawhīd. Bahwa ia akan disiksa.

Ketiga, ibadah akan menghidupkan tawhīd dalam hati dan mematrikannya dalam jiwa.

Keempat, penjelasan tentang jalan menuju kebahagiaan dan cara menempuhnya agar sampai pada kenikmatan dunia dan akhirat.

Kelima, kisah-kisah tentang orang-orang yang menepati aturan-aturan Allah dan melaksanakan hukum-hukum agama-Nya, serta cerita tentang orang yang melanggar aturan-Nya dan tidak mau mengindahkan hukum-hukum agama-Nya.[10]

III. Khātimah

Demikian uraian singkat mengenai sūrah al-Fātihah lewat telaah sederhana seputar nama dan fadhīlahnya. Tentu saja, uraian ini masih sangat jauh dari apa yang diharapkan. Sebagai kesimpulan awal, penulis mencatat dua hal penting: pertama, nama-nama al-Fātihah adalah cermin kandungan sūrah tersebut yang begitu luas dan mendalam. Oleh karenanya, sangat patut untuk direnungkan, dihayati, dan diamalkan. Kedua, fadhīlah yang terkandung di dalamnya menegaskan bahwa al-Fātihah benar-benar sūrah agung yang memiliki banyak keutamaan yang, tentu saja, masih dapat terus digali dan dieksplorasi dengan baik. [Qosim Nursheha]



@ Disampaikan pada Kajian Dwi Mingguan asātīdz Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Jum’at pagi tanggal 5 Juni 2009 di Masjid Pesantren.

[1] ‘Abd al-Qādir al-Jailānī, al-Fath al-Rabbānī wa al-Faydh al-Rahmānī, (Beirut-Lebanon: Dār al-Fikr, cet. I, 2005), hlm. 84.

[2] Imam Khomeini, Rahasia Basmalah: Lebih Dekat dengan Allah Melalui Asma-Nya, dari judul asli ‘Islam and Revolution: Writing, Speech and Lecture of Ayatullah Ruhullah Musawi Khomeini, Bab “Lecture on Surat Al-Fatihah,” (Mizan Press, Berkely, 1981) dan disunting dari edisi lain berbahasa Inggris Interpretation of Surah Al-Hamd, terjemah: Zulfahmi Andri, (Jakarta: Hikmah (PT Mizan Publika), cet. I, 2007), hlm. 86.

[3] Baca lebih lanjut, Bruce Lawrence, The Qur’an, A Biography, terjemah: Ahmad Asnawi ‘Biografi Al-Qur’an’, (Yogyakarta: Diglossia Media, cet. I, 20008).

[4] ‘Imād al-Dīn Abū al-Fidā’ Ismā’īl ibn Katsīr al-Dimasyqī (w. 774 H), Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, tahqīq: Musthafā al-Sayyid Muhammad, Muhammad Fadhl al-‘Ajamāwī, Muhammad al-Sayyid Rasyād, ‘Alī Ahmad ‘Abd al-Bāqī dan Hasan ‘Abbās Quthb, (Mesir-Gīzah: Mu’assasah Qarthabah & Maktabah Awlād al-Syaikh li al-Turāts, cet. I, 1421 H/2000 M), 1: 151.

[5] Abū al-Faraj Jamāl al-Dīn ‘Abd al-Rahmān ibn ‘Alī ibn Muhammad al-Jauzī al-Qurasyī al-Baghdādī, Zād al-Masīr fī ‘Ilm al-Tafsīr, (Beirut-Damascus: al-Maktab al-Islāmī, cet. III, 1404 H/1984 M), 1: 10.

[6] Ibnu Katsīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, 1: 151-152. Untuk melihat tentang nama-nama al-Fātihah, dapat juga dirujuk, (1) Abū al-Qāsim Muhammad ibn Ahmad ibn Juzay al-Kalbī (w. 741), al-Tashīl li ‘Ulūm al-Tanzīl, tashīh dan takhrīj ayat: Muhammad Sālim Hāsyim, (Beirut-Lebanon: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cet. I, 1415 H/1995 M), 1: 44; (2) Abū Muhammad al-Husain ibn Mas’ūd al-Baghawī (w. 516 H), Ma’ālim al-Tanzīl, tahqīq dan takhrīj hadīts : Muhammad ‘Abd Allāh al-Namir, ‘Utsmān Jum’ah Dhamīriyyah dan Sulaimān Muslim al-Harasy, (Riyadh: Dār Thayyibah, 1411 H), 1: 49; dan (3) Abū ‘Abd Allāh Muhammad ibn Ahmad ibn Abī Bakr al-Qurthubī (w. 671 H), al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān, tahqīq: Dr. ‘Abd Allāh ibn ‘Abd al-Muhsin al-Turkī, (Beirut-Lebanon: Mu’assah al-Risālah, cet. I, 1427 H/2006 M), 1: 166, dll.

[7] Burhān al-Dīn Abū al-Hasan Ibrāhīm ibn ‘Umar al-Biqā’ī, Nazhm al-Durar fī Tanāsub al-Āyāt wa al-Suwar, (Kairo: Dār al-Kitāb al-Islāmī, ttp), 1: 19-20. Lihat juga, Muhammad Makhdlori, Samudera Al-Fatihah: Mengarungi Lautan Aura Fadhilah Surat Al-Fatihah, (Yogyakarta: Diva Press, cet. II, 2008), hlm. 39-58.

[8] Abū Muhammad al-Husain ibn Mas’ūd al-Baghawī (w. 516 H), Ma’ālim al-Tanzīl, tahqīq dan takhrīj hadīts : Muhammad ‘Abd Allāh al-Namir, ‘Utsmān Jum’ah Dhamīriyyah dan Sulaimān Muslim al-Harasy, (Riyadh: Dār Thayyibah, 1411 H), 1: 49.

[9] H. Bey Arifin, Samudera Al-Fatihah, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, cet. IV, 1974), hlm. 4-10. Penulis hanya mengutip teks hadīts, tanpa mengutip maknanya yang ada dalam buku tersebut.

[10] Muhammad Rasyīd Ridhā, Tafsir al-Fātihah: Menemukan Hakikat Ibadah, terjemah: Tiar Anwar Bachtiar, (Bandung: Mizan, cet. IV, Februari 2007/Muharram 1428 H), hlm. 31-32.

0 komentar:

Poskan Komentar